Psikologi Pendidikan : Sikap dan Emosi


SIKAP
A.      Definisi Psikologi Sikap
Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negative terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya (Howard dan Kendler, 1974; Gerungan, 2000).
Gagne (1974) mengatakan bahwa sikap merupakan suatu keadaan internal (internal state) yang mempengaruhi pilihan tidakan individu terhadap beberapa obyek, pribadi, dan peristiwa. Masih banyak lagi definisi sikap yang lain, sebenarnya agak berlainan, akan tetapi keragaman pengertian tersebut disebabkan oleh sudut pandang dari penulis yang berbeda. Namun demikian, jika dicermati hampir semua batasan sikap memiliki kesamaan padang, bahwa sikap merupakan suatu keadaan internal atau keadaan yang masih ada dalam dari manusia. Keadaan internal tersebut berupa keyakinan yang diperoleh dari proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan yang mereka dapatkan, sebagaimana pendapat Piaget’s tentang proses perkembangan kognitif manusia (Wadwortahun, 1971).Para psikolog, di antaranya Morgan dan King, Howard dan Kendler, Krech, Crutchfield dan Ballachey, mengatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan hereditas.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.




B.       Komponen Sikap
Secara umum, dalam berbagai referensi, sikap memiliki 3 komponen yakni: kognitif, afektif, dan kecenderungan tindakan (Morgan dan King, 1975;Krech dan Ballacy, 1963, Howard dan Kendler 1974, Gerungan, 2000).
1.    Komponen kognitif
Aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian individu terhadap obyek atau subyek. Informasi yang masuk ke dalam otak manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia. Nilai-nilai baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu.
2.    Komponen afektif
Aspek  ini Dikatakan sebagai perasaan (emosi) individu terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil penilaiannya.
3.    Komponen kecenderungan bertindak
Berkenaan dengan keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keyakinandan keinginannya. Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau negatif. Manifestasikan sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau subyek. Komponen sikap berkaitan satu dengan yang lainnya.Dari manapun kita memulai dalam analisis sikap, ketiga komponen tersebut tetap dalam ikatan satu sistem. Komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak merupakan suatu kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap  dan Ketiga komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak secara bersama- sama membentuk sikap.

C.      Klasifikasi Sikap
Sikap dapat pula diklasifikasikan menjadi sikap individu dan sikap sosial (Gerungan, 2000).
1.    Sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial, dan biasanya dinyatakan oleh sekelompok orang atau masyarakat.
2.    Sikap individu, adalah sikap yang dimiliki dan dinyatakan oleh seseorang.


D.      Teori – Teori Tentang Sikap
1.    Teori Keseimbangan. Pada teori ini fokusnya terletak pada upaya individu untuk tetap konsisten dalam bersikap  dalam hidup yang melibatkan hubungan- hubungan antara seseorang dengan dua objek sikap.Dan dalam bentuk sederhana, ketiga elemen tersebut dihubungkan dengan :
a)    Sikap favorable (baik, suka, positif)
b)   Sikap Unfavorable (buruk, tidak suka, negatif)
2.    Teori Konsistensi kognitif – Afektif. Pada teori ini fokusnya terletak pada bagaimana seseorang berusaha membuat kognisi mereka konsisiten dengan afeksinya dan penilaian seseorang terhadap suatu kejadian akan mempengaruhi keyakinannya. Sebagai contoh: Tidak jadi makan direstoran X karena temannya bilang bahwa restoran tersebut tidak halal padahal di belum pernah kesana
3.    Teori Ketidaksesuaian. Pada teori ini fokusnya terletak pada  bagaimana individu menyelataskan elemen – elemen kognisi, pemikiran atau struktur (Konsonansi selaras) dan disonasi atau kesetimbangan yaitu pikiran yang amat menekan dan memotivasi seseorang untuk memperbaikinya.dimana terdapat 2 elemen kognitif dimana disonasi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menganggu logika dan penghargaan. Sebagai contoh Misalnya: ”Merokok membahayakan kesehatan” konsonansi dengan ”saya tidak merokok”; tetapi disonansi dengan ”perokok”.
4.    Teori Atribusi . Pada teori ini fokusnya terletak paad bagaimana individu mengetahui akan sikapnya dengan mengambil kesimpulan sendiri dan persepsinya tentang situasi. Implikasinya adalah perubhan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah. Sebagai contoh memasak setiap kesempatan baru sadar kalu dirinya suka menyukai/ hobi memasak.

E.       Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Sikap
Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah:
1.  Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional.
2. Kebudayaan. B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki.
3.  Orang lain yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
4.  Media mass. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
5.    Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
6. Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.

F.       Fungsi Sikap
Pandangan lain klasik sikap adalah bahwa sikap melayani fungsi tertentu bagi individu. Artinya, peneliti telah mencoba untuk memahami mengapa individu memiliki sikap tertentu atau mengapa mereka memiliki sikap secara umum dengan mempertimbangkan bagaimana sikap mempengaruhi orang yang menahan mereka. Daniel Katz, misalnya, menulis bahwa sikap dapat melayani instrumental, adjustive atau utilitarian, ego-defensif, nilai-ekspresif, atau pengetahuan fungsi. Pandangan fungsional sikap menunjukkan bahwa dalam rangka untuk mengubah sikap (misalnya, melalui persuasi), banding harus dilakukan dengan fungsi (s) bahwa sikap tertentu berfungsi untuk individu. Sebagai contoh, "ego-defensif" fungsi dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap rasial merugikan dari seorang individu yang melihat diri mereka sebagai berpikiran terbuka dan toleran. Dengan menarik untuk gambar yang individu diri mereka sebagai toleran dan berpikiran terbuka, dimungkinkan untuk mengubah sikap merugikan mereka untuk lebih konsisten dengan mereka konsep diri. Demikian pula, pesan persuasif yang mengancam citra diri jauh lebih mungkn untuk ditolak.

G.      Pembentukan Sikap
Menurut Doob (1947), pembelajaran dapat menjelaskan sebagian dari sikap kita pegang. Teori pengkondisian klasik, pengkondisian instrumental dan pembelajaran sosial terutama bertanggung jawab untuk pembentukan sikap. Tidak seperti kepribadian , sikap diharapkan berubah sebagai fungsi dari pengalaman . Tesser (1993) berargumen bahwa variabel keturunan dapat mempengaruhi sikap - namun percaya bahwa mereka dapat melakukannya langsung. Misalnya, teori konsistensi, yang berarti bahwa kita harus konsisten dalam keyakinan dan nilai-nilai. Seperti halnya jenis heritabilitas, untuk menentukan apakah suatu sifat tertentu memiliki dasar dalam gen kita, studi kembar yang digunakan. Contoh yang paling terkenal dari teori semacam itu adalah Disonansi-reduksi teori, terkait dengan Leon Festinger , yang menjelaskan bahwa ketika komponen sikap (termasuk keyakinan dan perilaku) bertentangan seorang individu dapat menyesuaikan satu untuk mencocokkan lain (misalnya, menyesuaikan keyakinan untuk mencocokkan perilaku). Teori lain meliputi teori keseimbangan , origincally diusulkan oleh Heider (1958), dan teori persepsi diri , awalnya diusulkan oleh Daryl Bem.

H.      Perubahan Sikap
Sikap dapat diubah melalui persuasi dan domain yang penting dari penelitian tentang perubahan sikap berfokus pada tanggapan terhadap komunikasi. Penelitian eksperimental ke dalam faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persuasi dari pesan meliputi:
1.  Karakteristik Sasaran: Ini adalah karakteristik yang mengacu pada orang yang menerima dan memproses pesan. Salah satu sifat tersebut adalah intelijen - tampaknya bahwa lebih banyak orang cerdas yang kurang mudah dibujuk oleh satu sisi pesan. Variabel lain yang telah dipelajari dalam kategori ini adalah harga diri. Meskipun kadang-kadang berpikir bahwa mereka lebih tinggi harga diri kurang mudah dibujuk, ada beberapa bukti bahwa hubungan antara harga diri dan persuasibility sebenarnya lengkung, dengan orang-orang moderat harga diri yang lebih mudah dibujuk dibandingkan baik yang tinggi dan rendah diri tingkat (Rhodes & Woods, 1992). Kerangka pikiran dan suasana hati target juga berperan dalam proses ini.
2. Sumber Karakteristik: Karakteristik sumber utama adalah keahlian, kepercayaan dan atraksi interpersonal atau daya tarik. Kredibilitas pesan dirasakan telah ditemukan untuk menjadi variabel kunci di sini, jika seseorang membaca sebuah laporan tentang kesehatan dan percaya itu berasal dari sebuah jurnal medis profesional, seseorang mungkin lebih mudah dibujuk daripada jika orang percaya itu dari sebuah surat kabar populer. Beberapa psikolog telah memperdebatkan apakah ini merupakan efek jangka panjang dan Hovland dan Weiss (1951) menemukan efek memberitahu orang-orang bahwa pesan yang berasal dari sumber yang dapat dipercaya menghilang setelah beberapa minggu (yang disebut "efek tidur ").
 3.  Pesan Karakteristik: Sifat pesan memainkan peran dalam persuasi. Kadang-kadang menyajikan kedua sisi cerita berguna untuk membantu mengubah sikap. Ketika orang tidak termotivasi untuk memproses pesan, hanya jumlah argumen yang disajikan dalam pesan persuasif akan mempengaruhi perubahan sikap, sehingga lebih banyak argumen akan menghasilkan perubahan sikap yang lebih besar.
 4.Kognitif Rute. Sebuah pesan dapat menarik bagi evaluasi kognitif individu untuk membantu mengubah sikap. Dalam rute pusat persuasi individu disajikan dengan data dan termotivasi untuk mengevaluasi data dan sampai pada perubahan sikap kesimpulan. Dalam rute perifer terhadap perubahan sikap, individu didorong untuk tidak melihat konten, tetapi pada sumbernya.
EMOSI
A.    Hakekat Emosi
Darimana emosi itu muncul? Apakah dari pikiran atau dari tubuh? Pada hakikatnya setiap orang mempunyai emosi, dari bangun tidur pagi sampai malam hari, kita mengalami macam-macam pengalaman yang menimbulkan berbagai emosi pula.
Lantas apa yang dimaksud dengan emosi? Menurut William James (dalam Wedge, 1995), menurut beliau mendefinisikan emosi adalah kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya. Crow dan Crow (1962), dia mengartikan emosi sebagai suatu kedaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian diri dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahtraan dan keselamatan individu.
Dari definisi tersebut jelas bahwa emosi tidak selalu jelek, emosi meminjam ungkapan Jalaludin Rakhmat (1994), memberikan bumbu kepada kehidupan tanpa emosi hidup ini kering dan gersang.
Memang semua orang memiliki jenis perasaan yang serupa, namun intensipnya berbeda-beda, emosi-emosi ini dapat merupakan kecenderungan yang membuat kita frustasi, tetapi juga bisa menajdi modal untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Semua itu tergantung pada emosi yang kita pilih dalam reaksi kita terhadap orang lain, kejadian-kejadian, dan situasi disekitar kita.
Disisi lain juga emosi itu kebanyakan cenderung untuk melakukan sesuatu hal yang jelek, dan jarang ada emosi yang bertujuan untuk hal yang baik.
  1. Teori-teori emosi
  2. Teori emosi dan faktor Schacter Sinyer
Teori emosi dua faktor schacer-singer dikenal sebagai teori yang klasik yang berorientasi pada rangsangan. Reaksi fsiologik dapat saja sama (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin di alirkan dalam darah dan sebagainya), namun jika rangsangannya menyenangkan emosi yang timbul dinamakan senang. Sebaliknya jika rangsangan yang membahayakan emosi yang dinamakan takut. Para ahli psikologi melihat teori ini lebih sesuai dengan teori kognisi.
  1. Teori emosi James-lange
Dalam tori ini disebutkan bahwa emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologi.
William James (1884), dari Amerika Serikat dan Carl Lange (1885), dari Denmark telah mengemukakan pada saat yang hampir bersamaan suatu teori tentang emosi mirip satu sama lainnya, sehingga teori ini terkenal dengan nama teori James-Lange (Effendi dan Praja, 1993; mahmud, 1990; Dirgagunarsa, 1996).
Menurut teori ini emosi adalah hasil prsepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar. Misalkan jika seseorang melihat harimau, reaksinya adalah peredaran darah cepat karena denyut jantung makin cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara dan sebagainya. Respon-respon tubuh ini kemudian di persepsikan dan timbulah rasa takut. Mengapa rasa takut itu timbul? Ini disebabkan oleh hasil pengalaman dan proses belajar. Orang bersangkutan dari hasil pengalamnnya telah mengetahui bahwa harimau adalah makhluk yang berbahaya karena itu debaran jantung di persepsikan takut.
  1. Teori Emergency Cannon
Teori ini dikemukakan oleh Walter. B Cannon (1929), seorang psikolog dari Harvard University, Cannon dalam teorinya menyatakan bahwa karena gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untuk mengatasi keadaan yang genting.
Teori ini menyebutkan emosi sebagai pengalaman subjektif psikologi, timbul bersama-sama dengan reaksi fsikologik (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin di alirkan dalam darah dan sebagainya).
Teori Cannon selanjutnya diperkuat oleh Philip Bard, sehingga lebih dikenal dengan teori Cannon-Bard atau teori “emergency” teori ini mengatakan pula bahwa emosi adalah reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergency (darurat). Teori ini didasarkan pada pendapat bahwa ada antagonisme (fungsi yang bertentangan) antara saraf-saraf simpatis dengan cabang-cabang oranial dan secral daripada susunan saraf otonom. Jadi kalau saraf-saraf simpatis aktif sarat otonom nonaktif, dan begitu kebalikannya.
  1. Menggolongkan emosi
Membedakan suatu emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yang sejenis kedalam suatu golongan atau suatu tipe sangat sukar dilakukan karenaa hal-hal sebagai berikut?
  1. Emosi yang sangat mendalam, misalnya sangat marah atau sangat takut menyebabkan aktivitas badan sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh aktif, dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang itu sedang takut atau marah
  2. Penghayatan, satu orang yang dapat menghaytai satu macam emosi dengan berbagai cara misalnya kalau marah aseorang akan gemetar di tempat, tetapi lain kali ia memaki-maki atau mungkin lari
  3. Nama emosi, nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi didasarkan oleh sifat rangsangannya, bukan pada keadaan emosinya sendiri, jadi takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya yang menjengkelkan.
  4. Pengenalan emosi, pengenalan emosi secara subjektif dan introspektif sukar dilakukan karena selalu saja ada pengaru dari lingkungan
Perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi emosi, terutama pada emosi yang kuat sering kali terjadi perubahan-perubahan pada tubuh kita antara lain :
  1. Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona
  2. Peredaran darah : bertambah cepat bila marah
  3. Denyut jantung : bertambah cepat bila berdenyut
  4. Perubah rnapasan : bernapsas panjang bila kencang
  5. Pupil mata : membesar bila sakit atau marah
  6. Liur : mongering bila takut dan tegang
  7. Bulu roma : berdiri bila takut
  8. Percernaan : mencret-mencret bila tegang
  9. Komposisi darah : komposisi darah akan pucat berubah dalam keadaa emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif.
  10. Perkembangan emosi
Para ahli psikolog sering menyebutkan bahwa dari semua aspek perkembangan, yang paling sukar untuk di klasifikasikan adalah perkembangan emosional. Orang-orang dewasapun sukar mendapat kesukaran dalam menyatakan perasaannya. Reaksi pada emosi pada dasarnya sanat dipengaruhi oleh lingkungan, kebudayaan dan sebagainya, sehingga mengukur emosi itu agaknya hampir tidak mungkin.
Dalam pertumbuhan yang normal, hubungan saraf-saraf itu berkembang di dalam  otak baru dan otak lama. Disaat kematangan ini tumbuh respon-respon emosional berkembang melalui empat jalan, hal ini sesuai dengan empat aspek emosi yaitu : (1) Stimulus, (2) perasaan, (3) respon-respon internal, (4) pola-pola tingkah laku.
  1. Gangguan emosi
Sekarang ini banyak teori yang muncul untuk mencoba menjelaskan sebab-musabab terjadinya gangguan emosional. Teori-teori tersebut dapat dikelompokan dalam tiga kategori; lingkungan, afektif, dan kongnitif (Hauck, 1967).
  1. Teori lingkungan
Teori lingkungan ini menganggap bahwa penyakit mental diakibatkan oleh berbagai kejadian yang menyebabkan timbulnya stres. pandangan tersebut beranggapan bahwa kejadian ini sendiri adalah penyebab langsung dari keterangan emosi.
Pada umumnya, orang menganggap teori ini sesuai dengan akal sehat dan menerima pandangan in begitu saja. Ucapan-ucapan seperti “ia membuat saya marah”, “film lucu itu membuat saya tertawa”, merupakan bukti nyata bahwa berbagai kejadian di dalam hidup kita mempunyai hubungan langsung dan satu terhadap satu dengan perasaan emosional kita.
Teori ini sama sekali tidak bisa menjelaskan mengapa pada suatu waktu kejadian tertentu membawa kesedihan, tetapi tidak demikian pada saat lain. Atau mengapa seorang bisa bersikap sangat tenang terhadap kejadian yang tidak menguntungkan, sedangkan orang lain bil aberhadapan dengan kejadian yang sama akan mengalami kecemasan.
Seperti yang kita lihat teori ini memang sangat masuk akal, namun hanya sampai batasan tertentu. Betapapun populernya teori tersebut tidak cukup untuk menerangkan secara luas gejala dari pergolakan emosional.
Menurut pandangan ini, tekanan emosional baru bisa dihilangan kalau masalah “penyebab” ketegangan tersebut di tiadakan. Selama masalh tersebut masih ada, biasanya  tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang menyertainya. Karena yang disebut lebih dahulu diduga sebagai penyebab dari yang belakangan, secara logis bisa dikatakan bahwa penghilangan masalah selalu dapat menghilangkan kesukaran. Memang demikianlah yang sering terjadi tetapi ini belum tentu dapat menghilangkan reaksi emosional yang kuat sekali jika reaksi ini terjadi (Hauck 1967).
  1. Teori afektif
Pandangan profesional yang paling luas dianut mengenai gangguan mental adalah pandangan yang berusaha menemukan pengalaman emosional bawah sadar yang dialami seorang anak bermasalah dan kemudian membawa ingatan yang dilupakan dan ditakuti ini ke alam sadar, sehingga dapat di lihat dari sudut yang lebih realistik. Sebelum rasa takut dan rasa salah tersebut disadari, anak-anak itu diperkirakan hidup dengan pikiran bawah sadar yang ipenuhi dengan bahan-bahan yang menghancurkan yang tidak bisa dilihat, tetapi masih sangat aktif dan hidup. Ia bisa cemburu dan membenci ayahnya yang ditakutkan akan melukainya karena pikiran-pikiran jahat tersebut, anak itu mngkin merasa bersalah karena rasa benci itu sehingga amat berharap mendapat hukuman atas kejahatannya. Karena tidak menyadari kebencian itu si anak tidak menyadari bahwa si anak banyak kejadian tidak masuk akal terjadi atas dirinya sebenarnya adalah alat untuk menghukum dirinya sendiri.
Menurut pandangan ini bukan lingkungan seperti si ayah yang menimbulkan gangguan, tetapi perasaan bawah sadar sianak (atau dikatakan afeksi), kelepasan hanya bisa dicapai bila perasaan tersebut dimaklumi dan dihidupkan kembali dengan seorang yang tidak akan menghukum anak tersebut atas keinginan-keinginan berbahaya.
  1. Teori kongnitif
Sekarang ini hanya teori kognitif utama yang patut dibicarakan, yakni “Psikoterapi Rasional Emotif” yang ditemukan oleh Albert Ellis (1962), menurut teori  ini  penderitaan mental tidak disebabkan langsung oleh masalah kita atau perasaan bawah sadar kita akan masalah tersebut melainkan dari pendapat yang salah dan irasional. Yang di sadari maupun yang tidak disadari akan masalah-masalah yang kita hadapi.
  1. Macam-macam emosi
Atas dasar aktivitasnya tingkah laku emosinal dapat dibagi menjadi empat macam yaitu : (1) marah, orang bergerak menentang sumber frustasi, (2) takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi, (3) cinta, orang bergerak menuju sumber  kesenangan, (4) defresi, orang menghentikan respon-respon terbukanya dan mengalihkan emosi ke dalam dirinya sendiri (Mahmud, 1990:167).
Dari hasil penelitiannya John B Watson, (dalam Mahmud 1990) menemjukan bahwa tiga dari ke empat respon emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu : takut, marah, dan cinta.
  1. Ekspresi dan emosi
Apakah ekspresi itu? Wullur (1970:16) melukiskan ekspresi sebagai “pernyataan batin seseorang dengan cara berkata, bernyanyi, bergerak, dengan catatan bahwa ekspresi itu selalu tumbuh karena dorongan akan menjelmakan perasaan atau buah pikiran”.
Ekspresi menurut Wullur, juga bersifat membersihkan,  membereskan (katarsis), karena itu ekspresi dapat mencegah timbulnya kejadian-kejadian yang tidak diberi kesempatan untuk menjelmakan perasaannya dan menghadapi perasaannya. Tanpa ekspresi, bahan yang terpendam itu dapat membahayakan, dan terkadang bisa menjadi letusan kecil ataupun juga menjadi letusan besar. Misalnya mengamuk bahkan membunuh, letusan yang lebih besar lagi adalah terjadinya letusan revolusi suatu bangsa yang bertahun-tahun atau berabad-abad tertindas.
Dalam kaitannya dengan emosi, kita dapat  membagi ekspresi emosional (emotional expression) dalam tiga macam (Dirgagunarsa, 1996:138) yakni : (1) startle response atau reaksi terkejuit, (2) facial and vocal expression atau ekspresi wajah dan suara, (3) posture and gesture atau ekspresi sikap dan gerak tubuh.
  1. Perasaan dan emosi
Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif dan negatif’ (Koentjaraningrat, 1980).
Dalam mempelajari perasaan para ahli tidak mengadakan pembedaan yang tegas dengan emosi. Hal ini tampak pada pembagian perasaan yang dilakukan oleh beberapa ahli dibawah ini (Dirgagunarsa, 1996) yakni : (1) perasaan pengindraaan, (2) perasaan vital, (3) perasaan psikis (4) perasaan pribadi.
W. Stern mengadakan pembagian perasaan sebagai berikut: (1) perasaan yang bersangkutan dengan masa kini, (2) perasaan yang bersangkutan dengan masa lampau, (3) perasaan yang bersangkutan dengan masa yang akan datang.
Watson menyatakan bahwa manusia pada dasarrnya mempunyai tiga emosi dasar yakni: (1) fear, yang nantinya bisa berkembang menjadi anxiety atau cemas, (2) rage, yang akan berkembang antara lain menjadi anger (marah), (3) love, yang akan berkembang menjadi simpati.
Descrates juga mengemukakan emosi-emosi dasar sebanyak enam macam yakni : (1) desire, keinginan, (2) hate, benci, (3) wonder, kagum, (4) sorrow,kesedihan, (5)love, cinta, (6) joy, kegembiraan.
  1. Mengendalikan emosi
Mengendalikan emosi itu penting sekalai, karena kenapa? hal ini didasrkan atas kenyataan bahwa emosi mempunyai kemampuan untk mengomunikasikan diri kepada orang lain.
Supaya pergaulan kita sehari-hari dapat berjalan lancar dan dapat menikmati kehidupan yang tentram, kita tidak hanya mampu mengendalikan emosi, namun juga harus memiliki emosi yang tepat dengan mempertimbangkan keadaan, waktu, dan tempat. Maka menurut Wedge (1995), rahasia hidup yang bahagia dapat dinyatakan dalam suatu kalimat singkat, “pilihlah emosi anda seperti anda memiliki sepatu anda”.
Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa peraturan untuk mengendalikan emosi (Mahmud, 1990) yakni : (1) hadapilah emosi tersebut, (2) jika mungkin, tafsirkanlah kembali situasinya, (3) kembangkanlah rasa humor dan sikap realistis, (4) atasilah problem-problem yang menjadi sumber emosi.


Comments

Popular posts from this blog

Evaluasi Pendidikan: Konversi Skala 11

Semantic : Sense and Relations (Synonym, Paraphrase, Hyponymy, Homonymy, Polysemy, Logic, Proposition)

Penilaian Afektif