Model Pembelajaran Saintifik
BAB
1
Defenisi.
Pendekatan saintifik bukan metode
pembelajaran, tetapi lebih berperan dalam langkah-langkah dalam proses
pembelajaran. Yang didalamnya bisa juga dipadukan dengan metode-metode
pelajaran. Biasanya pendekatan ini lebih cocok di terapkan dalam kerja
kelompok, jadi sebelum sampai ke kegiatan proses pembelajaran peserta didik
sudah di kelompokan terlebihdahulu.
Pengertian Pendekatan Saintifik.
Pengertian Pendekatan Saintifik.
Sebenarnya apa Pendekatan
saintifik itu? Pendekatan saintifik merupakan kerangka ilmiah
pembelajaran yang diterapkan pada Kurikulum 2013. Proses pembelajaran ini dapat
disamakan dengan suatu proses ilmiah karena didalamnya terdapat tahapan-tahapan
terutama dalam kegiatan inti. Pendekatan saintifik dapat di sebut juga sebagai
bentuk pengembangan sikap baik religi maupun sosial, pengetahuan, dan
keterampilan peserta didik dalam mengaplikasikan materi pelajaran. Dalam
pendekatan ini peserta didik tidak lagi dijadikan sebagai objek pembelajaran,
tetapi dijadikan subjek pembelajaran, guru hanya sebagai fasilitator dan
motivator saja. Guru tidak perlu menjelaskan semua tentang apa yang ada dalam
materi.
BAB
2
Konsep Dasar
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang
dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk
konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk
mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan
masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan
berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan
konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”. Pendekatan saintifik
dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal,
memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi
bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah
dari guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta
diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai
sumber melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan
proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan,
dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru
diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan
semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.
Metode saintifik sangat relevan dengan tiga teori belajar yaitu teori
Bruner, teori Piaget, dan teori Vygotsky. Teori belajar Bruner
disebut juga teori belajar penemuan. Ada empat hal pokok berkaitan dengan teori
belajar Bruner (dalam Carin & Sund, 1975). Pertama, individu hanya
belajar dan mengembangkan pikirannya apabila ia menggunakan pikirannya. Kedua,
dengan melakukan proses-proses kognitif dalam proses penemuan, siswa akan
memperoleh sensasi dan kepuasan intelektual yang merupakan suatau penghargaan
intrinsik. Ketiga, satu-satunya cara agar seseorang dapat mempelajari
teknik-teknik dalam melakukan penemuan adalah ia memiliki kesempatan untuk
melakukan penemuan. Keempat, dengan melakukan penemuan maka akan
memperkuat retensi ingatan. Empat hal di atas adalah bersesuaian dengan proses
kognitif yang diperlukan dalam pembelajaran menggunakan metode saintifik.
Teori Piaget, menyatakan bahwa
belajar berkaitan dengan pembentukan dan perkembangan skema (jamak skemata).
Skema adalah suatu struktur mental atau struktur kognitif yang dengannya
seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan
sekitarnya (Baldwin, 1967). Skema tidak pernah berhenti berubah, skemata
seorang anak akan berkembang menjadi skemata orang dewasa. Proses yang menyebabkan
terjadinya perubahan skemata disebut dengan adaptasi. Proses terbentuknya
adaptasi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan
stimulus yang dapat berupa persepsi, konsep, hukum, prinsip ataupun pengalaman
baru ke dalam skema yang sudah ada didalam pikirannya. Akomodasi dapat berupa
pembentukan skema baru yang dapat cocok dengan ciri-ciri rangsangan yang ada
atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan ciri-ciri stimulus
yang ada. Dalam pembelajaran diperlukan adanya penyeimbangan atau ekuilibrasi
antara asimilasi dan akomodasi.
Vygotsky,
dalam teorinya menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta
didik bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun
tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan atau tugas itu berada
dalam zone of proximal development daerah terletak antara tingkat
perkembangan anak saat ini yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan
masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.
(Nur dan Wikandari, 2000:4).
Pembelajaran dengan metode saintifik
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) berpusat pada siswa.
2) melibatkan keterampilan proses sains dalam
mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip.
3) melibatkan proses-proses kognitif yang
potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan
berpikir tingkat tinggi siswa.
4) dapat mengembangkan karakter siswa.
BAB
3
PRINSIP PRINSIP
Prinsip-prinsip kegiatan pembelajaran dengan
pendekatan saintifik kurikulum 2013, yakni :
1. peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu.
2. peserta didik belajar dari berbagai sumber
belajar.
3. proses pembelajaran menggunakan pendekatan
ilmiah.
4. pembelajaran berbasis kompetensi.
5. pembelajaran terpadu.
6. pembelajaran yang menekankan pada jawaban
divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi.
7. pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif.
8. peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan
keterkaitan antara hard-skills dan soft-skills.
9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat.
10. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan
memberi keteladanan (Ing Ngarso Sung Tulodo), membangun kemauan
(Ing Madyo Mangun Karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam
proses pembelajaran (Tut Wuri Handayani).
11. pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
12. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas pembelajaran.
13. pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budaya peserta didik.
14. suasana belajar menyenangkan dan menantang.
BAB
4
Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik
Dalam pengertian pendekatan saintifik ada beberapa langkah-langkah, menurut Peraturan pemerintah pendidikan dan kebudayaan (permendikbud) Nomor 81 A Tahun 2013 lampiran IV, proses pembelajaran terdiri atas lima kegiatan pengalaman belajar pokok yaitu: Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Informasi/Eksperimen, Mengasosiasikan/Mengolah Informasi, Dan, Mengkomunikasikan.
1. Mengamati
Dalam proses mengamati peserta didik diharapkan dapat menyaksikan tentang apa yang di sajikan guru, misalnya video atau film yang terkait materi, guru juga bisa menampilkan gambar-gamba yang juga terkait dengan materi. Selain itu pengamatan juga dapat dilakukan pada saat guru melakukan simulasi.
Dalam proses mengamati peserta didik diharapkan dapat menyaksikan tentang apa yang di sajikan guru, misalnya video atau film yang terkait materi, guru juga bisa menampilkan gambar-gamba yang juga terkait dengan materi. Selain itu pengamatan juga dapat dilakukan pada saat guru melakukan simulasi.
2.
Menanya
Setelah peserta didik mengamati, kemudian peserta didik merumuskan pertanyaan atas apa yang telah di tampilkan guru, apabila sudah ada pertanyaan-pertanyaan pada peserta didik diharapkan dengan pertanyaan itu nantinya akan membuat peserta didik lebih memperhatikan materi dan mampu mencari sendiri jawaban dari pertanyaannya itu.
Setelah peserta didik mengamati, kemudian peserta didik merumuskan pertanyaan atas apa yang telah di tampilkan guru, apabila sudah ada pertanyaan-pertanyaan pada peserta didik diharapkan dengan pertanyaan itu nantinya akan membuat peserta didik lebih memperhatikan materi dan mampu mencari sendiri jawaban dari pertanyaannya itu.
3. Mngumpulkan Informasi/Eksperimen
Pada tahap
ini, setelah peserta didik mempunyai pertanyaan yang diperoleh melalui
pengamatan terhadap media yang sudah ditampilkan guru, maka tugas peserta didik
selanjutnya adalah mengumpulkan informasi, informasi tersebut untuk menjawab
pertanyaan yang sudah dibuat, informasi tersebut dapat diperoleh dari berbagai
sumber belajar seperti buku, setudi perpustakaan,internet. Disinilah peserta
didik di tuntut untuk aktif bekerja sama dalam kelompoknya.
4. Mengasosiasikan/Mengolah Informasi
Setelah
mendapatkan informasi dan data yang cukup, peserta didik dalam kelompoknya
berbagi tugas untuk mengasosiasikan atau mengolah informasi yang sudah di dapat
dengan yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan yang sudah dirumuskan. Dan
menampilkannya dalam laporan kelompok.
5.
Mengkomunikasikan
Dalam proses ini peserta didik di harapkan mampu mengkomunikasikan dengan kelompok lain tentang informasi apa yang sudah di olah dalam kelompoknya. Disinilah inti dari saintifik yaitu peserta didik diharapkan untuk saling bertukar informasi dengan kelompok lain. Sehingga akan tercipta kondisi peserta didik yang aktif, dan menjadikan peserta didik menjadi subjek belajar.
Dalam proses ini peserta didik di harapkan mampu mengkomunikasikan dengan kelompok lain tentang informasi apa yang sudah di olah dalam kelompoknya. Disinilah inti dari saintifik yaitu peserta didik diharapkan untuk saling bertukar informasi dengan kelompok lain. Sehingga akan tercipta kondisi peserta didik yang aktif, dan menjadikan peserta didik menjadi subjek belajar.
Comments
Post a Comment