Model Pembelajaran Kolaborasi
A.
LATAR BELAKANG MUNCULNYA MODEL
KOLABORASI
Pembelajaran kolaboratif dapat
menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran.
Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction),
pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan
meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran kolaboratif telah
menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu,
yaitu:
- Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas
memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
- Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam
upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perpsektif
filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus
memiliki pasangan. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku “Democracy
and Education” yang isinya bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan
berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran
Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob et al., 1996), adalah:
- Siswa hendaknya aktif, learning by doing
- Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik
- Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap
- Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan
dan minat siswa
- Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan
prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya
prosedur demokratis sangat penting.
- Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia
nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut.
B.
Pengertian
Pembelajaran Kolaboratif
Model
pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu model “Student-Centered Learning”
(SLC). Pada model ini, peserta belajar dituntut untuk berperan secara aktif
dalam bentuk belajar bersama atau berkelompok.
Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative
learning” mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok
yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang
mengarah pada tujuan bersama. Pengertian kolaborasi sendiri yaitu:
1. Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain,
kerja sama, bekerja dalam bagian satu tim, dan bercampur dalam satu kelompok menuju keberhasilan
bersama.
2. Patel berpendapat
bahwa kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam
mencoba untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and
rewards.
3.
Duin, Jorn, DeBower, dan Johnson mendefinisikan “collaboration” sebagai
suatu proses di mana dua orang atau lebih merencanakan, mengimplementasikan,
dan mengevaluasi kegiatan bersama.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian pembelajaran kolaborasi
adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang
bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil ke arah satu tujuan. Dalam kelompok
ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain. Jadi situasi
belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif untuk mencapai
kesuksesan. Pendapat
lain mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai filsafat pembelajaran
yang memudahkan para siswa bekerja sama, saling membina, belajar dan berubah
bersama, serta maju bersama pula. Dalam situs Wikipedia, collaborative
learning atau pembelajaran kolaboratif diartikan sebagai situasi dimana
terdapat dua atau lebih orang belajar atau berusaha untuk belajar sesuatu
secara bersama-sama.
Schrage menyatakan
pembelajaran kolaboratif melebihi aktivitas bekerjasama (kooperatif)
kerana ia melibatkan kerjasama hasil penemuan dan hasil yang didapatkan
daripada sekedar pembelajaran baru. Menurut Jonassen, seperti halnya
pembelajaran kooperatif, pembelajaran kolaboratif juga dapat membantu siswa
membina pengetahuan yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan pembelajaran
secara individu. Inti pembelajaran kolaboratif adalah bahwa para siswa belajar
dalam kelompok-kelompok kecil. Antaranggota kelompok saling belajar dan
membelajarkan untuk mencapai tujuan bersama. Keberhasilan kelompok adalah
keberhasilan individu dan demikian pula sebaliknya.
Metode kolaboratif didasarkan
pada asumsi-asumsi mengenai proses belajar siswa sebagai berikut:
1.
Belajar itu aktif dan konstruktif
Untuk
mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan bahan
itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya, atau menggunakan materi baru untuk menata kembali apa
yang mereka pikir mereka sudah tahu. Siswa membangun makna atau
menciptakan hal baru yang terkait dengan bahan pelajaran. Tindakan
pemrosesan intelektual ini – membangun, menilai, menciptakan sesuatu yang baru-
adalah penting dalam pembelajaran.
2.
Belajar itu bergantung konteks
Penelitian terbaru mengatakan bahwa
pembelajaran secara mendasar dipengaruhi oleh konteks dan aktivitasnya (Brown,
Collins and Duguid, 1989 dalam Smith andMacGregor, 2011). Pembelajaran
kolaboratif menekan siswa dalam
tugas-tugas atau pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Kegiatan model
pembelajaran ini tidak dimulai dengan fakta-fakta dan gagasan dan kemudian
bergerak ke aplikasi, melainkan dimulai dari permasalahan. Untuk itu siswa
harus menata dengan baik fakta dan gagasan yang saling berkaitan.
Alih-alih berperan sebagai pengamat pertanyaan dan jawaban, atau masalah dan
penyelesaian, siswa dengan cepat
menjadi praktisi. Konteks-konteks yang kaya, menantang siswa untuk mempraktikkan
dan mengembangkan alasan-alasan dan keahlian menyelesaikan masalah yang
tingkatannya lebih tinggi .
3.
Siswa itu beraneka latar belakang
Para siswa
mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latar belakang, gaya belajar,
pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam
kegiatan kerja sama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian
hasil bersama dalam proses belajar.
4.
Belajar itu bersifat sosial
Proses
belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun
makna yang diterima bersama. Pembelajaran kolaboratif menghasilkan
sinergi intelektual dari banyak pemikiran yang datang untuk menyelesaikan suatu
masalah, dan stimulasi sosial dari
hubungan timbal balik dalam suatu usaha. Ekspolarasi, penilaian, dan feed back yang timbal
balik menghasilkan pemahaman lebih baik pada sebagian siswa, dan pada
penciptaan pemahaman baru untuk seluruh siswa dan guru.
Menurut Piaget
dan Vigotsky, strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya
tiga teori, yaitu :
1. Teori Kognitif
Teori ini berkaitan dengan terjadinya
pertukaran konsep antar anggota kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga
dalam suatu kelompok akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada
setiap anggota.
2. Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat adanya
interaksi sosial antar anggota yang akan membantu perkembangan individu
dan meningkatkan sikap saling menghormati pendapat semua anggota
kelompok.
3. Teori Motivasi
Teori ini teraplikasi dalam struktur
pembelajaran kolaboratif karena pembelajaran tersebut akan memberikan
lingkungan yang kondusif bagi siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota
untuk memberi pendapat, dan
menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam kelompok.
Piaget dengan
konsepnya “active learning” berpendapat bahwa para siswa belajar lebih
baik jika mereka berpikir secara kelompok. Piaget juga berpendapat bila
suatu kelompok aktif, kelompok tersebut
akan melibatkan yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih
menarik.
Berikut sejumlah strategi yang diajukan
oleh Howard untuk membantu siswa fokus pada tugas pokok yang harus
dikerjakannya:
1.
Membagikan secara tertulis petunjuk pelaksanaan kegiatan yang dikerjakan oleh
tim. Petunjuk itu dibuat detail agar pebelajar tidak mengalami kebingungan
dalam melaksanakannya. Dengan cara demikian, siswa tidak hanya menyandarkan pada ingatan
semata atau catatan-catatan yang dibuat tiap anggota kelompok.
2.
Membuat schedule untuk penyelesaian tugas sementara yang di dalamnya
meliputi: tanggal penyelesaian kegiatan, kartu catatan, dan garis besar
penyusunan laporan. Jika schedule telah disusun, misalnya untuk
melaksanakan riset perpustakaan, melakukan berbagai keterampilan di kelas yang
berbeda bersama guru dari disiplin
ilmu yang berbeda, atau melakukan pertemuan di tempat lain di luar kelas, semua
itu harus dicantumkan di dalam schedule.
3.
Mendiskusikan dengan siswa dan memberikan
lembaran evaluasi yang dapat digunakan untuk menilai aspek-aspek kegiatan kelompok. Ini berguna
untuk membantu siswa memahami
bagaimana menyelesaikan kegiatannya dengan baik dan benar.
4.
Mengusahakan setiap anggota kelompok memiliki buku
catatan kegiatan yang dibagi ke dalam bagian-bagian guna mengorganisasikan
kegiatan yang harus diselesaikan. Lembaran tugas, petunjuk pelaksanaan
kegiatan, dan schedule kegiatan harus dilekatkan di bagian depan buku
catatan siswa.
C.
Tujuan Pembelajaran Kolaboratif
Belajar kolaboratif menuntut adanya
modifikasi tujuan pembelajaran dari yang semula sekedar penyampaian informasi
menjadi konstruksi pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam
belajar kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu,
melainkan tugas itu milik bersama dan diselesaikan secara bersama tanpa membedakan percakapan belajar
siswa.
Dari uraian di atas, kita bisa
mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu bagaimana cara
agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama,
interaksi, dan pertukaran informasi.
Selain itu, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah
sebagai berikut :
1.
Memaksimalkan proses kerja sama yang berlangsung secara alamiah di
antara para siswa.
2.
Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa,
kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerja sama.
3.
Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam
kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
4.
Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses
belajar.
5.
Mengembangkan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.
6.
Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam
sudut pandang.
7.
Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
8.
Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara
para siswa, dan di antara siswa dan guru.
9.
Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
D.
Manfaat Pembelajaran Kolaboratif
Manfaat dari pembelajar kolaboratif adalah sebagai berikut:
1.
Meningkatkan pengetahuan
anggota kelompok karena interaksi dalam kelompok merupakan faktor berpengaruh
terhadap penguasaan konsep.
2.
Siswa belajar
memecahkan masalah bersama dalam kelompok.
3.
Memupuk rasa kebersamaan antarsiswa, setiap individu tidak dapat lepas dari
kelompoknya, mereka perlu mengenali sifat dan pendapat yang berbeda, serta mampu mengelolanya.
4.
Meningkatkan keberanian memunculkan ide atau pendapat untuk memecahkan masalah
bagi setiap siswa yang diarahkan
untuk mengajar atau memberi tahu kepada teman kelompoknya jika mengetahui dan
menguasai permasalahan.
5.
Memupuk rasa tanggung jawab siswa dalam mencapai
suatu tujuan bersama dalam bekerja agar tidak terjadi tumpang tindih atau perbedaan
pendapat yang prinsip.
6.
Setiap anggota melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok yang merasa memiliki tanggung
jawab karena kebersamaan dalam belajar sehingga mereka memperhatikan kelompoknya.
Dalam pembelajaran kolaborasi, guru tidak lagi
memberikan ceramah di depan kelas, tapi dapat berperan seperti:
1.
Fasilitator, dengan menyediakan sarana yang memperlancar proses belajar dengan mengatur
lingkungan fisik, memberikan atau menunjukkan sumber-sumber informasi,
menciptakan iklim kondusif yang dapat mendorong pebelajar memiliki sikap dan tingkah laku
tertentu, dan merancang tugas
2.
Model, secara aktif berupaya menjadi contoh dalam melakukan kegiatan
belajar efektif, seperti mencontohkan penggunaan strategi belajar atau cara
mengungkapkan pemikiran secara verbal (think aloud) yang dapat membantu
proses konstruksi pengetahuan
3.
Pelatih (coach), memberikan petunjuk, umpan balik, dan pengarahan
terhadap upaya belajar siswa. Siswa tetap mencoba
memecahkan masalahnya sebelum memperoleh masukan dari guru.
E.
Langkah-Langkah Pembelajaran
Kolaboratif
Dalam menerapkan pembelajaran
kolaboratif, guru harus
memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran kolaboratif sebagai
berikut:
1. Mengajar
keterampilan kerja sama, mempraktikkan, dan balikan diberikan dalam hal
seberapa baik keterampilan-keterampilan digunakan.
2. Kegiatan kelas
ditingkatkan untuk melaksanakan kelompok yang kohesif.
3. Setiap individu
diberi tanggung jawab untuk kegiatan belajar dan perilaku masing-masing.
Berikut ini
langkah-langkah pembelajaran kolaboratif :
1. Para siswa
dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2. Semua siswa
dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3. Kelompok
kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan,
meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah
dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4. Setelah
kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa
menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5. Guru
menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua
kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi
kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati,
mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan
ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6. Masing-masing
siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi
(bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7. Laporan
masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun
perkelompok kolaboratif.
8. Laporan
siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya,
dan didiskusikan.
F. Kelebihan dan Kekurangan
Pembelajaran Kolaboratif
1. Kelebihan
a.
Siswa belajar bermusyawarah
b.
Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c.
Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d.
Dapat memupuk rasa kerja sama
e.
Adanya persaingan yang sehat
2.
Kelemahan
a.
Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b.
Membutuhkan waktu cukup banyak.
c.
Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang
lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
d.
Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.
G. MACAM-MACAM PEMBELAJARAN
KOLABORATIF
Ada
banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli
maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning
pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang
mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
- Learning
Together
Dalam
metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam
kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan
oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas.
Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
- Teams-Games-Tournament
(TGT)
Setelah
belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba
dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing.
Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
- Group
Investigation (GI)
Semua
anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta
perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang
akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana
perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses
dan hasil kerja kelompok.
- Academic-Constructive
Controversy (AC)
Setiap
anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik
intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik
bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran
ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah,
pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan
keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok
mempertahankan posisi yang dipilihnya.
- Jigsaw
Proscedure (JP)
Dalam
bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda
tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan
pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian
didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
- Student
Team Achievement Divisions (STAD)
Para
siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota
dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya
adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan
demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan
individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun
kelompok.
- Complex
Instruction (CI)
Metode
pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada
penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial.
Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap
pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual
(menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen.
Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
- Team
Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk
pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/
kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota
kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu.
Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap
pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal
tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap
pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama.
Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian
didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
- Cooperative
Learning Stuctures (CLS)
Dalam
pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa
(berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain
menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab
oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau
skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah
ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
- Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model
pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini
menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran
ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik
secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.
Keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta yang
berpartisipasi dalam model pembelajaran kolaboratif adalah:
- Pembentukan
kelompok
- Bekerja
dalam satu kelompok
- Pemecahan
masalah kelompok
- Manajemen
perbedaan kelompok
Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan collaborative
learning ada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Engagement
Pada
tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan, minat, bakat dan
kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Lalu, siswa dikelompokkan
yang di dalamnya terdapat siswa terpandai, siswa sedang, dan siswa yang rendah
prestasinya.
2. Exploration
Setelah
dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas, misalnya dengan
memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok tersebut. Dengan masalah
yang diperoleh, semua anggota kelompok harus berusaha untuk menyumbangkan
kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun gagasannya.
3. Transformation
Dari
perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu setiap anggota
saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa
yang semula mempunyai prestasi rendah, lama kelamaan akan dapat menaikkan
prestasinya karena adanya proses transformasi dari siswa yang memiliki prestasi
tinggi kepada siswa yang prestasinya rendah.
4. Presentation
Setelah
selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu kelompok melakukan
presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil
presentasi tersebut, dan menanggapi.
5. Reflection
Setelah
selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab antar kelompok.
Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima pertanyaan, tanggapan ataupun
sanggahan dari kelompok lain. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh kelompok
lain, anggota kelompok harus bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan
baik.
Brandt (2004) menekankan adanya lima elemen dasar
yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
1. Possitive
interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu
siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama dan mereka
peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus
merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat dengan antarsesama
anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai bahan pelajaran dan
memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa
tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.
2. Verbal, face to face
interaction (interaksi langsung antarsiswa)
Yaitu
hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya komunikasi verbal
antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan positif. Siswa harus saling
berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Siswa juga
harus menjelaskan, berargumen, elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka
pelajari sekarang untuk mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3. Individual
accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu
setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar dalam suatu
kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama lain, setiap
siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan pokok bahasan. Dengan
demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok
bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap hasil belajar kelompok.
4. Social skills
(keterampilan berkolaborasi)
Yaitu
keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut
mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam kelompok tercipta
interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan sebagai bagian
dari proses belajar kolaboratif. Siswa harus belajar dan diajar kepemimpian,
komunikasi, kepercayaan, membangun dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5. Group processing (keefektifan
proses kelompok)
Yaitu
kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan secara bersama
dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik. Siswa memproses
keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan tindakan mana yang
dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan-keputusan
tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang perlu diubah.
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1. The two-person group
(tutoring)
Yaitu
satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai
pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2. The small group
(interactive recitation; discussion)
Adalah
cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai
alternative pemecahan masalah.
3. Small or large group
(recitation)
Yaitu
suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk mempelajari sesuatu
kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya. Tugas-tugas yang diberikan
oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, laboratorium,
atau di tempat lain.
Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
- Siswa
belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses
belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota bekerja
bersama.
- Interaksi
intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
- Masing-masing
siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
- Siswa
harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
- Peran
guru sebagai mediator.
- Adanya
sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa
dan siswa.
- Pengelompokkan
secara heterogen.
G.
Perbedaan
dan persamaan model pembelajaran koopertif dan kolaboratif
Matthews, et.al. (1995) menjelaskan perbedaan dan persamaan
dari kedua konsep pembelajaran ini dalam tabel berikut:
|
Perbedaan
|
|
|
Pembelajaran Kooperatif
|
Pembelajaran Kolaboratif
|
|
Dalam kelompok kecil, para siswa
menerima latihan ketrampilan sosial
|
Untuk mencapai tujuan
pembelajaran, ketrampilan sosial diyakini telah dimiliki oleh para siswa
|
|
Guru merancang aktivitas-aktivitas
terstruktur dan setiap siswa memiliki peran khusus
|
Siswa mengatur dan menegosiasikan
usahanya sendiri.
|
|
Jika diperlukan, guru mengamati,
mendengarkan dan melakukan intervensi dalam kelompok
|
Guru tidak memonitor aktivitas
siswa ketika ada pertanyaan yang ditujukan kepada guru, siswa dibimbing untuk
menemukan informasi yang diperlukannya.
|
|
Pada akhir pelajaran, tugas-tugas
yang diserahkan para siswa perlu dievaluasi
|
Siswa menyimpan draft untuk
dilengkapi pada pekerjaan selanjutnya.
|
|
Kinerja siswa secara individu
maupun kelompok di asesmen oleh guru
|
Siswa melakukan asesmen kinerja
secara individual maupun kelompok kecil, kelas (pleno), maupun pertimbangan
masyarakat keilmuan pada umumnya
|
Persamaannya:
1. Menekankan pentingnya
pembelajaran aktif
· 2. Peran guru sebagai fasilitator
3. Pembelajaran adalah pengalaman
bersama antara siswa dan guru
· 4. Meningkatkan
ketrampilan kognitif tingkat tinggi
5. ·
Lebih banyak menekankan tanggungjawab siswa dalam proses belajarnya
· 6. Melibatkan situasi yang
memungkinkan siswa dapat mengemukaan idenya dalam kelompok kecil
7. Membantu siswa dalam mengembangkan
ketrampilan sosial dan membangun ilmu.
Comments
Post a Comment