Model Pembelajaran Kooperatif
BAB II
PENDAHULUAN.
LATAR
BELAKANG
Pengertian Metode Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya
adalah proses penambahan informasi dan kemampuan, ketika berfikir informasi dan
kompetensi apa yang dimaksud oleh siswa, maka pada saat itu juga kita
semestinya berfikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat
tercapai secara efektif dan efesien. Ini sangat penting untuk dipahami oleh
setiap guru, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara
mencapainya. Seorang guru dituntut untuk menguasai metode pembelajaran yang
dilakukannya akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya
yang tidak kalah pentingnya dari nilai proses pembelajarannya adalah hasil
belajar yang optimal
atau maksimal.
Banyak defenisi mengenai
metode pembelajaran ini yang dijumpai dalam berbagai literatur Muhammad Atiyah
Al-Abrasyi, mendefenisikan “jalan yang harus diikuti untuk memberikan kefahaman bagi peserta didik segala macam
pelajaran dalam segala mata pelajaran”.
Dari berbagai defenisi
mengenai metode pembelajaran yang telah dikemukakan dapatdisimpulkan dalam
kalimat pendek bahwa metode ialah jalan atau cara-cara yang digunakan pendidik dan
peserta didik dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif
Pembelajaran
kooperatif muncul karena adanya perkembangan dalam sistem pembelajaran yang
ada. Pembelajaran kooperatif menggantikan sistem pembelajaran yang individual.
Dimana guru terus memberikan informasi ( guru sebagai pusat ) dan peserta didik
hanya mendengarkan. Pembelajaran kooperatif mendapat dukungan dari Vygotsky
tokoh teori kontruktivisme. Dukungan Vygotsky antara lain:
a. Menekankan peserta didik
mengkonstruksi pengetahuan mealui interaksi sosial dengan orang lain.
b. Selain itu dia juga
berpendapat bahwa penekanan belajar sebagai proses dialog interaktif. Semua hal
tersebut ada dalam pembelajaran kooperatif.
c. Arti penting belajar kelompok
dalam pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif ini
membuat siswa dapat bekerjasama dan adanya partisiasi aktif dari siswa. Guru
sebagai fasilisator dan pembimbing yang akan mengarahkan setiap peserta didik
menuju pengetahuan yang benar dan tepat.
BAB III
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Adalah
pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa
untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan
belajar.
B. KONSEP DASAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Model pembelajaran kelompok adalah
rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat
unsur penting dalam pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Adanya peserta dalam kelompok
2. Adanya aturan kelompok
3. Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok,
dan
4. Adanya tujuan yang harus dicapai.
Peserta adalah siswa yang melakukan
proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar. Pengelompokkan siswa bisa
ditetapkan berdasarkan beberapa pendekatan, di antaranya pengelompokan yang
didasarkan atas minat dan bakat siswa, pengelompokan yang didasarkan atas
campuran baik campuran ditinjau dari minat maupun campuran ditinjau kemampuan.
Pendekatan apa pun yang digunakan, tujuan pembelajaran haruslah menjadi
pertimbangan utama.
Aturan kelompok adalah segala
sesuatu yang menjadi kesepakatan semua pihak yang terlibat, baik siswa sebagai
peserta didik, maupun siswa sebagai anggota kelompok. Upaya belajar adalah
segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki
maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan,
sikap, maupun keterampilan. Aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam
kegiatan kelompok, sehingga antarpeserta dapat saling membelajarkan melalui
tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan.
Aspek tujuan dimaksudkan untuk
memberikan arah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Melalui tujuan yang
jelas, setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap kegiatan belajar.
C. Karakteristik
Pembelajaran Kooperatif
Ø Karakteristik pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berbeda
dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari
proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam
kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam
pengertian pengusaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk
penguasaan materi tersebut. Adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas
dari pembelajaran kooperatif.
Presepktif perkembangan kognitif
artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat
mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi.
Elaborasi kognitif, artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan
menimba informasi menambah pengetahuan kognitifnya. Dengan demikian,
karakteristik strategi pembelajaran kooperatif dijelaskan dibawah ini.
a. Pembelajaran
Secara Tim
Pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh
karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim
(anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan
tim.
Setiap kelompok bersifat heterogen.
Artinya, kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis
kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar
setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman, saling memberikan
konribusi terhadap keberhasilan kelompok.
b. Didasarkan pada
manajemen kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, manajemen
mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi,
fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran
kooperatif. Fungsi perencanaan menujukkan bahwa pembelajaran kooperatif
memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaram berjalan secara
efektif, misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya,
apa yang harus digunakan mencapai tujuan itu dan lain sebagainya. Fungsi
pelaksanaan menujukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai
dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan
termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi
menujukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap
anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap
anggota kelompok. Fungsi kontrol menujukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif
perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes.
c. Kemauan
untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran
kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu,
prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif.
Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur dan tanggung jawab masing-masing,
akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Misalnya, yang pintar
perlu membantu yang kurang pintar.
d. Keterampilan
Bekerja Sama
Kemauan untuk bekerja sama itu
kemudian diparktikan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam
keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan
sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. siswa perlu dibantu
mengatasi berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga
setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan
kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
D. Prinsip-prinsip
Pembelajaran Kooperatif
Terdapat empat prinsip dasar pembelajaran kooperatif,
seperti dijelaskan dibawah ini.
a. Prinsip
Ketergatungan Positif (Positive Interdependence)
Dalam pembelajaran kelompok,
keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang
dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu didasari oleh
setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan
ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota
dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
Untuk terciptanya kelompok kerja
yang efektif, setiap anggota kelompok masing-masing pelru membagi tugas sesuai
dengan tujuan kelompoknya. Tugas tersebut tentu saja disesuaikan dengan
kemampuan setiap anggota kelompok. Inilah hakikat ketergantungan positif,
artinya tugas kelompok tidak mungkin bisa diselesaikan manakala ada anggota
kelompok yang tak bisa menyelesaiakan tugasnya, dan semua ini memerlukan kerja
sama yang baik dari masing-masing anggota kelompok. Anggota kelompok yang
mempunyai kemampuan lebih, diharapkan mau dan mampu membantu temannya untuk
menyelesaikan tugasnya.
b. Tanggung
jawab perseorangan (individual accountability)
Prinsip ini merupakan konsekuensi
dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada
setiap anggotanya, maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab
sesuai dengan tugansya. Setiap anggota haru memberikan yang terbaik untuk
keberhasilan kelompoknya. Untuk mencapai hal tersebut, guru perlu memberikan
penilaian terhadap indvidu dan juga kelompok. Penilaian individu bisa berbedam
akan tetapi penilaian kelompok harus sama.
c. Interaksi
tatap muka (Face to face promtion interaction)
Pembelajatan kooperatif memberi
ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap
muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap
muaka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok
untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan
masing-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing. Kelompok belajar
kooperatif dibentuk secara heterogen, yang berasal dari budaya, latar belakang
sosial, dan kemampuan akademik yang berbeda. Perbedaan semacam ini akan menjadi
modal utama dalam proses saling memperkaya antar anggota kelompok.
d. Partispasi
dan Komunikasi (Participation Communication)
Pembelajaran kooperatif melatih
siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini
sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh
sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan
kemampuan berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai kemampuan berkomunikasi,
mislanya kemampuan mendengarkan dan kemampuan bicara, padahal keberhasilan
kelompok ditentukan oleh partisipasi setiap anggotanya.
Untuk dapat melakukan partisipasi
dan komunikasi, siswa perlu dibekali dengan kemampuan-kemampuan berkomunikasi.
Mislanya, cara menyatakan ketidaksetujuan atau cara menyanggah pendapat orang
lain secara santun, tidak memojokkan cara menyampaikan gagasan dan ide-ide yang
dianggapanya baik dan berguna.
Keterampilan berkomunikasi memang
memerlukan waktu. Siswa tak mungkin dapat menguasainya dalam waktu sekejap.
Oleh sebab itu, guru peru terus melatih dan melatih, sampai akhirnya setiap
siswa memiliki kemampuan untuk menjadi komunikator yang baik.
E. Prosedur
Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran kooperatif
pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu:
1. Penjelasan
Materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai
proses penyampaian pokok-pokok matri pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok.
Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi
pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi
pelajaran yang harus dikuasai selanjutanya siswa akan memperdalam materi dalam
pembelajaran kelompok (tim). Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode
ceramah, curah pendapat, dan tanya jawab, bahkan kalau perlu guru dapat
menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat menggunakan berbagai
media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2. Belajar
Kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran
umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk
belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya.
Pengelompokan dalam SPK bersifat heterogen. Selanjutanya, Anita Lie menjelaskan
beberapa alasan lebih disukainya pengelompokan heterogen. Pertma,kelompok
heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar (peer toturing) dan
saling mendukung. Kedua, kelompok ini meningkatkan relasi dan
interaksi antar ras, agam, etnis, dan gender. Terakhir, kelompok heterogen
memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan
akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk setiap kelompok. Melalui
pembelajaran tim siswa didorong untuk melakukan tukar-menukar (sharing) informasi
dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama, membadingkan jawaban
mereka, dan mengoreksi hal-hal yang kurang tepat.
3. Penilaian
Penilian dalam SPK bisa dilakukan
dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun
secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan
setiap siswa dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap
kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua.
Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hal ini disebabkan
nilai kelompok adalah niali bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil
kerja sama setiap anggota kelompok.
4. Pengakuan Tim
Pengakuan tim (team recognition) adalah penetapan tim
yang dianggap paling menonjol atau tim paling berpertasi untuk kemudian
diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian pengharagaan
tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga
membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka
F. JENIS-JENIS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1. TAI (Team
Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
Tipe model pembelajaran kooperatif yang satu ini sebenarnya adalah
penggabungan dari pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe TAI, siswa mengikuti tingkatan yang
bersifat individual berdasarkan tes penempatan, dan kemudian dapat maju ke
tahapan selanjutnya berdasarkan tingkat kecepatannya belajar. Jadi, setiap
anggota kelompok sebenarnya belajar unit-unit materi pelajaran yang berbeda.
Rekan sekelompok akan memeriksa hasil pekerjaan rekan sekelompok lainnya dan
memberikan bantuan jika diperlukan.
Tes kemudian diberikan diakhir unit tanpa bantuan teman sekelompoknya
dan diberikan skor. Lalu setiap minggu guru akan menjumlahkan total unit materi
yang diselesaikan suatu kelompok dan memberikan sertifikat atau penghargaan
bila mereka berhasil melampaui kriteria yang telah ditetapkan, dan beberapa
poin tambahan untuk kelompok yang anggotanya mendapat nilai sempurna.
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini adalah karena siswa
bertanggungjawab untuk memeriksa pekerjaan rekannya yang lain, maka guru
mempunyai waktu yang lebih banyak untuk membantu kelompok-kelompok kecil yang
menemuai banyak hambatan dalam belajar yang merupakan kumpulan dari
anggota-anggota kelompok yang berada pada tingkatan unit materi pelajaran yang
sama. Banyak penelitian melaporkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini sangat
efektif untuk digunakan dalam pembelajaran
.
2. STAD
(Student Teams Achievement Division)
Pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini siswa dikelompokkan ke
dalam kelompok kecil yang disebut tim. Kemudian seluruh kelas diberikan
presentasi materi pelajaran. Siswa kemudian diberikan tes. Nilai-nilai individu
digabungkan menjadi nilai tim. Pada model pembelajaran kooperatif tipe ini
walaupun siswa dites secara individual, siswa tetap dipacu untuk bekerja sama
untuk meningkatkan kinerja dan prestasi timnya. Bila pertama kali digunakan di
kelas anda, maka ada baiknya guru terlebih dahulu memperkenalkan model pembelajaran kooperatif STAD ini kepada siswa.
3. Round
Table atau Rally Table
Untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Round table atau
Rally Table ini guru dapat memberikan sebuah kategori tertentu kepada siswa
(misalnya kata-kata yang dimulai dengan huruf “s”). Selanjutnya mintalah siswa
bergantian menuliskan satu kata secara bergiliran.
4. Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson
dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan
teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001). Tujuan diciptakannya
tipe model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini adalah untuk meningkatkan rasa
tanggung jawab siswa terhadap belajarnya sendiri dan juga belajar anggota
kelompoknya yang lain. Mereka diminta mempelajari materi yang akan menjadi
tanggungjawabnya, karena selain untuk dirinya, ia juga harus mengajarkan materi
itu kepada anggota kelompoknya yang lain.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ini ketergantungan antara
siswa sangat tinggi. Setiap siswa dalam model pembelajaran kooperatif ini
adalah anggota dari dua kelompok, yaitu (1) kelompok asal (home group) dan (2)
kelompok ahli (expert group). Kelompok asal dibentuk dengan anggota yang
heterogen. Di kelompok asal ini mereka akan membagi tugas untuk mempelajari
suatu topik. Setelah semua anggota kelompok asal memperoleh tugas
masing-masing, mereka akan meninggalkan kelompok asal untuk membentuk kelompok
ahli.
Kelompok ahli adalah kelompok yang terbentuk dari anggota-anggota
kelompok yang mempunyai tugas mempelajari sebuah topik yang sama (berdasarkan
kesepakatan mereka di kelompok asal). Setelah mempelajari topik tersebut di
kelompok ahli, mereka akan kembali ke kelompok asal mereka masing-masing dan
saling mengajarkan topik yang menjadi tanggungjawab mereka ke anggota kelompok
lainnya secara bergantian.
Guru perlu memahami bagaimana model pembelajaran Jigsaw ini dilaksanakan, begitu juga siswa
Guru perlu memahami bagaimana model pembelajaran Jigsaw ini dilaksanakan, begitu juga siswa
5. Tim Jigsaw
Untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, tugaskan
setiap siswa pada setiap kelompok untuk mempelajari seperempat halaman dari
bacaan atau teks pada mata pelajaran apa saja (misalnya IPS), atau seperempat
bagian dari sebuah topik yang harus mereka pelajari atau ingat. Setelah setiap
siswa tadi menyelesaikan pembelajarannya dan kemudian saling mengajarkan
(menjelaskan) tentang materi yang menjadi tugasnya atau saling bekerjasama
untuk membentuk sebuah kesatuan materi yang utuh saat mereka menyelesaikan
sebuah tugas atau teka-teki.
6. Jigsaw II
Tipe model pembelajaran kooperatif yang satu ini adalah modifikasi dari
tipe Jigsaw. Jigsaw II dikembangkan oleh Robert Slavin pada tahun 1980 di mana
semua anggota kelompok asal mempelajari satu topik yang sama, hanya saja
masing-masing anggota difokuskan untuk mendalami bagian-bagian tertentu dari
topik itu. Setiap anggota kelompok asal harus menjadi ahli dalam bagian topik yang
mereka dalami. Seperti Jigsaw, di tipe Jigsaw II ini mereka juga harus
mengajarkan keahliannya pada anggota kelompok asalnya yang lain secara
bergantian.
7. Reverse
Jigsaw (Kebalikan Jigsaw)
Tipe model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan oleh Timothy Hedeen
(2003). Perbedaanya dengan tipe Jigsaw adalah, bila pada model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw anggota kelompok ahli hanya mengajarkan keahliannya
kepada anggota kelompok asal, maka pada model pembelajaran kooperatif reverse
jigsaw ini, siswa-siswa dari kelompok ahli mengajarkan keahlian mereka (materi
yang mereka pelajari atau dalami) kepada seluruh kelas.
8. NHT
(Numbered Heads Together) – Kepala Bernomor Bersama
Pada modelpembelajaran kooperatif tipe NHT, minta siswa untuk menomori
diri mereka masing dalam kelompoknya mulai dari 1 hingga 4. Ajukan sebuah
pertanyaan dan beri batasan waktu tertentu untuk menjawabnya. Siswa yang
mengangkat tangan jika bisa menjawa pertanyaan guru tersebut. Guru menyebut
suatu angka (antara 1 sampai 4) dan meminta seluruh siswa dari semua kelompok
dengan nomor tersebut menjawab pertanyaan tadi. Guru menandai siswa-siswa yang
menjawab benar dan memperkaya pemahaman siswa tentang jawaban pertanyaan itu
melalui diskusi.
9. TGT
(Team Game Tournament)
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT mirip dengan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD, tetapi bedanya hanya pada kuis yang digantikan dengan
turnamen mingguan (Slavin, 1994). Pada model pembelajaran kooperatif ini,
siswa-siswa saling berkompetisi dengan siswa dari kelompok lain agar dapat
memberikan kontribusi poin bagi kelompoknya. Suatu prosedur tertentu digunakan
untuk membuat permainan atau turnamen berjalan secara adil. Penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe TGT terbukti efektif meningkatkan hasil belajar siswa.
10. Three-Step
Interview (Wawancara Tiga Langkah)
Pada model pembelajaran kooperatif tipe three-step interview (disebut
juga three problem-solving) dilakukan 3 langkah untuk memecahkan
masalah. Pada langkah pertama guru menyampaikan isu yang dapat memunculkan
beragam opini, kemudian mengajukan beberapa pertanyaan-pertanyaan kepada
seluruh siswa di kelas. Langkah kedua, siswa secara berpasangan bermain peran
sebagai pewawancara dan orang yang diwawancarai. Kemudian, di langkah yang
ketiga, setelah wawancara pertama dilakukan maka pasangan bertukar peran:
pewawancara berperan sebagai orang yang diwawancarai dan sebaliknya orang yang
tadi mewawancarai menjadi orang yang diwawancarai.
Setelah semua pasangan telah bertukar peran, selanjutnya setiap pasangan
dapat membagikan atau mempresentasikan hasil wawancara mereka kepada seluruh
kelas secara bergiliran. Tipe model pembelajaran kooperatif ini (three-step
interview) ini efektif untuk mengajarkan siswaproblem solving (pemecahan
masalah).
11. Three-Minute
Review (Reviu Tiga Langkah)
Model pembelajaran kooperatif tipe three-step review efektif
untuk digunakan saat guru berhenti pada saat-saat tertentu selama sebuah
diskusi atau presentasi berlangsung, dan mengajak siswa mereviu apa yang telah
mereka ungkapkan saat diskusi di dalam kelompok mereka. Siswa-siswa dalam
kelompok-kelompok itu dapat bertanya untuk mengklarifikasi kepada anggota
lainnya atau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari anggota lain. Misalnya setelah
diskusi tentang proses-proses kompleks yang terjadi di dalam tubuh manusia
misalnya pencernaan makanan, siswa dapat membentuk kelompok-kelompok dan
mereviu proses diskusi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk
mengklarifikasi.
12. GI (Group
Investigasi)
Model pembelajaran kooperatif tipe group investigasi dapat
dipakai guru untuk mengembangkan kreativitas siswa, baik secara perorangan
maupun kelompok. Model pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu
terjadinya pembagian tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran dan
berorientasi menuju pembentukan manusia sosial (Mafune,2005:4).
Model pembelajaran kooperatif dipandang sebagai proses
pembelajaran yang aktif, sebab siswa akan lebih banyak belajar melalui proses
pembentukan (contructing) dan penciptaan, kerja dalam kelompok dan berbagi
pengetahuan serta tanggung jawab individu tetap merupakan kunci keberhasilan
pembelajaran.
Asumsi yang digunakan sebagai acuan dalam pengembangan Model pembelajaran kooperatif tipe group
investigasi, yaitu (1) untuk meningkatkan kemampuan kreativitas siswa dapat
ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan
pengembangan alat bantu yang secara eksplisit mendukung kreativitas, (2)
komponen emosional lebihpenting daripada intelektual, yang tak rasional lebih
penting daripada yang rasional dan (3) untuk meningkatkan peluang keberhasilan
dalam memecahkan suatu masalah harus lebih dahulu memahami komponen emosioanl
dan irrasional.
13. Go Around
(Berputar)
Model pembelajaran kooperatif tipe go around sebenarnya
adalah variasi dari model pembelajaran kooperatif tipe group investigasi.
14. Reciprocal Teaching (Pengajaran Timbal
Balik)
Model pembelajaran kooperatif tipe reciprocal teaching (pengajaran
timbal balik) dikembangkan oleh Brown & Paliscar (1982). Pengajaran timbal
balik atau reciprocal teaching ini juga merupakan sebuah model
pembelajaran kooperatif yang meminta siswa untuk membentuk pasangan-pasangan
saat berpartisipasi dalam sebuah dialog (percakapan atau diskusi) mengenai
sebuah teks (bahan bacaan). Setiap anggota pasangan akanbergantian membaca teks
dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menerima dan memperoleh umpan balik (feedback).
Model pembelajaran tipe reciprocal teaching ini memungkinkan
siswa untuk melatih dan menggunakan teknik-teknik metakognitif seperti
mengklarifikasi, bertanya, memprediksi, dan menyimpulkan. Model pembelajaran
kooperatif tipe reciprocal teaching ini dikembangkan atas dasar bahwa siswa
dapat belajar secara efektif dari siswa lainnya. Baca artikel yang lebih rinci
tentang model pembelajaran kooperatif tipe reciprocal
teaching (pengajaran timbal balik).
15. CIRC (Cooperative
Integrated Reading Composition)
Model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (cooperative integrated
reading composition) adalah sebuah model pembelajaran yang sengaja
dirancang untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan
keterampilan-keterampilan berbahasa lainnya baik pada jenjang pendidikan tinggi
maupun jenjang dasar. Pada tipe model pembelajaran kooperatif yang satu ini
siswa tidak hanya mendapat kesempatan belajar melalui presentasi langsung oleh
guru tentang keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga teknik menulis
sebuah komposisi (naskah). CIRC dikembangkan untuk menyokong pendekatan
pembelajaran tradisional pada mata pelajaran bahasa yang disebut “kelompok
membaca berbasis keterampilan”.
Pada model pembelajaran CIRC ini siswa berpasang-pasangan di dalam
kelompoknya. Ketika guru sedang membantu sebuah kelompok-membaca (reading
group), pasangan-pasangan saling mengajari satu sama lain bagaimana
“membaca-bermakna” dan keterampilan menulis melalui teknik reciprocal (timbal
balik). Mereka diminta untuk saling bantu untuk menunjukkan aktivitas
pengembangan keterampilan dasar berbahasa (misalnya membaca bersuara (oral
reading), menebak konteks bacaan, mengemukakan pertanyaan terkait bacaan, menyimpulkan,
meringkas, menulis sebuah komposisi berdasarkan sebuah cerita, hingga merevisi
sebuah komposisi). Setelah itu, buku kumpulan komposisi hasil kelompok
dipublikasikan pada akhir proses pembelajaran. Semua kelompok (tim) kemudian
diberikan penghargaan atas upaya mereka dalam belajar dan menyelesaikan tugas
membaca dan menulis.
16. The
Williams
Tipe model pembelajaran kooperatif The Williams mengajak siswa melakukan
kolaborasi untuk menjawab sebuah pertanyaan besar yang merupakan sebuah tujuan
pembelajaran. Pada model pembelajaran ini siswa dikelompok-kelompoknya secara
heterogen seperti pada tipe STAD. Kemudian setiap kelompok diberikan pertanyaan
yang berbeda-beda dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif yang
memungkinkan siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran tersebut.
17. TPS (Think
Pairs Share)
Model pembelajaran kooperatif tipe TPS (think pairs share)
mulanya dikembangkan oleh Frank T. Lyman (1981). Tipe model pembelajaran
kooperatif ini memungkinkan setiap anggota pasangan siswa untuk berkontemplasi
terhadap sebuah pertanyaan yang diajukan. Setelah diberikan waktu yang cukup
mereka selanjutnya diminta untuk mendiskusikan apa yang telah mereka pikirkan
tadi (hasil kontemplasi) dengan pasangannya masing-masing. Setelah diskusi
dengan pasangan selesai, guru kemudian mengumpulkan tanggapan atau jawaban atas
pertanyaan yang telah diajukan tersebut dari seluruh kelas.
18. TPC (Think
Pairs Check)
Model pembelajaran kooperatif tipe think pairs-check adalah
modifikasi dari tipe think pairs share, di mana penekanan
pembelajaran ada pada saat mereka diminta untuk saling cek jawaban atau
tanggapan terhadap pertanyaan guru saat berada dalam pasangan.
19. TPW
(Think Pairs Write)
Tipe model pembelajaran kooperatif TPW (Think Pairs Write) juga merupakan
variasi dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS (Think Pairs Share).
Penekanan model pembelajaran kooperatif tipe ini adalah setelah mereka
berpasangan, mereka diminta untuk menuliskan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Model pembelajaran kooperatif tipe
TPW ini sangat cocok untuk pelajaran menulis.
20. Tea
Party (Pesta Minum Teh)
Pada model pembelajaran kooperatif tipe tea party, siswa membentuk dua
lingkaran konsentris atau dua barisan di mana siswa saling berhadapan satu sama
lain. Guru mengajukan sebuah pertanyaan (pada bidang mata pelajaran apa saja)
dan kemudian siswa mendiskusikan jawabannya dengan siswa yang berhadapanan
dengannya. Setelah satu menit, baris terluar atau lingkaran terluar bergerak
searah jarum jamsehingga akan berhadapan dengan pasangan yang baru. Guru
kemudian mengajukan pertanyaan kedua untuk mereka diskusikan. Langkah-langkah
seperti ini terus dilanjutkan hingga guru selesai mengajukan 5 atau lebih
pertanyaan untuk didiskusikan. Untuk sedikit variasi dapat pula siswa
diminta menuliskan pertanyaan-pertanyaan pada kartu-kartu untuk catatan nanti
bila diadakan tes.
21. Write
Around (Menulis Berputar)
Model pembelajaran kooperatif tipe write around ini
cocok digunakan untuk menulis kreatif atau untuk menulis simpulan. Pertama-tama
guru memberikan sebuah kalimat pembuka (contohnya: Bila kamu akan berulang
tahun, maka kamu akan meminta hadiah berupa...). Mintalah semua siswa dalam
setiap kelompok untuk menyelesaikan kalimat tersebut. Selanjutnya mereka ia
menyerahkan kertas berisi tulisannya tersebut ke sebelah kanan, dan membaca
kertas lain yang mereka terima setelah diserahkan oleh kelompok lain, kemudian
menambahkan satu kalimat lagi.
Setelah beberapa kali putaran, maka akan diperoleh 4 buah cerita atau
tulisan (bila di kelas dibentuk 4 kelompok). Selanjutnya beri waktu bagi mereka
untuk membuat sebuah kesimpulan dan atau mengedit bagian-bagian tertentu,
kemudian membagi cerita atau simpulan itu dengan seluruh kelas. Write
around adalah modifikasi dari model pembelajaran kooperatif go
around.
22. Round
Robin Brainstorming atau Rally Robin
Contoh pelaksanaan model pembelajaran kooperatif Round Robin
Brainstorming misalnya : berikan sebuah kategori (misalnya “nama-nama sungai di
Indonesia) untuk didiskusikan. Mintalah siswa bergantian untuk menyebutkan
item-item yang termasuk ke dalam kategori tersebut.
23. LT (Learnig
Together)
Orang yang pertama kali mengembangkan jenis model pembelajaran
kooperatif tipe Learning Together (Belajar Bersama) ini adalah
David johnson dan Roger Johnson di Universitas Minnesota pada tahun 1999. Pada
model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together, siswa
dibentuk oleh 4 – 5 orang siswa yang heterogen untuk mengerjakan sebuah lembar
tugas.
Setiap kelompok hanya diberikan satu lembar kerja. Mereka kemudian
diberikan pujian dan penghargaan berdasarkan hasil kerja kelompok. Pada model
pembelajaran Kooperatif dengan variasi seperti Learning Together ini,
setiap kelompok diarahkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan untuk membangun
kekompakan kelompok terlebih dahulu dan diskusi tentang bagaimana sebaiknya
mereka bekerjasama dalam kelompok.
24. Student
Team Learning (STL - Kelompok Belajar Siswa)
Model pembelajaran kooperatif tipe student team learning ini
dikembangkan di John Hopkins University – Amerika Serikat. Lebih dari separuh
penelitian tentang pembelajaran kooperatif di sana menggunakan student
team learning. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif yang satu ini
sama saja dengan model pembelajaran kooperatif yang lain yaitu adanya ide dasar
bahwa siswa harus bekerjasama dan turut bertanggungjawab terhadap pembelajaran
siswa lainnya yang merupakan anggota kelompoknya.
Pada tipe STL ini penekanannya adalah bahwa setiap kelompok harus
belajar sebagai sebuah tim. Ada 3 konsep sentral pada model pembelajaran
kooperatif tipe STL ini, yaitu: (1) penghargaan terhadap kelompok; (2)
akuntabilitas individual; (3) kesempatan yang sama untuk memperoleh kesuksesan.
Pada sebuah kelas yang menerapkan model pembelajaran ini, setiap kelompok dapat
memperoleh penghargaan apabila mereka berhasil melampaui ktiteria yang telah
ditetapkan sebelumnya. Akuntabilitas individual bermakna bahwa kesuksesan
sebuah kelompok bergantung pada pembelajaran yang dilakukan oleh setiap individu
anggotanya. Pada model pembelajaran tipe STL, setiap siswa baik dari kelompok
atas, menengah, atau bawah dapat memberikan kontribusi yang sama bagi
kesuksesan kelompoknya, karena skor mereka dihitung berdasarkan skor
peningkatan dari pembelajaran mereka sebelumnya.
25. Two Stay Two Stray
Model pembelajaran kooperatif two stay two stray ini sebenarnya dapat dibuat variasinya,
yaitu berkaitan dengan jumlah siswa yang tinggal di kelompoknya dan yang
berpencar ke kelompok lain. Misalnya: (1) one stay three stray (satu
tinggal tiga berpencar); dan (2) three stay one stray (tiga
tinggal satu berpencar). Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two
Stray dikembangkan pertama kali oleh Spencer Kagan (1990).
Dengan struktur kelompok kooperatif seperti tipe two stay two stray ini
dapat memberikan kesempatan kepada tiap kelompok untuk saling berbagi informasi
dengan kelompok-kelompok lain.
G. KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN PENGGUNAAN
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Keuntungan pembelajaran kooperatif diantaranya adalah :
1. Meningkatkan kepekaan dan
kesetiakawanan social
Memungkinkan para siswa
saling belajar mengenai sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan.
2. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian
sosial.
3. Memungkinkan terbentuk dan
berkembangnya nilai – nilai sosial dan komitmen.
4. Menghilangkan sifat mementingkan diri
sendiri atau egois.
5. Membangun persahabatan yang dapat
berlanjut hingga masa dewasa.
6. Berbagi ketrampilan sosial yang
diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan
dipraktekkan.
7. Meningkatkan rasa saling percaya
kepada sesama manusia.
8. Meningkatkan kemampuan memandang
masalah dan situasi dari berbagai perspektif.
9. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide
orang lain yang dirasakan lebih baik.
10. Meningkatkan kegemaran berteman tanpa
memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas
sosial, agama dan orientasi tugas
KELEMAHAN PEMBELAAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran kooperatif
selain memiliki keunggulan juga memiliki kelemahan – kelemahan antara lain :
Ø Dalam pembelajaran kooperatif apabila
kelompoknya tidak dapat bekerjasama dengan baik dan kompak maka akan terjadi
perselisihan karena adanya berbagai perbedaan yang dapat menyebabkan
perselisihan.
Ø Terkadang ada anggota yang lebih
mendominasi kelompok dan ada yang hanya diam, sehingga pembagian tugas tidak
merata.
Ø Dalam pembelajarannya memerlukan waktu
yang cukup lama sebab harus saling berdiskusi bersama teman – teman lain untuk
menyatukan pendapat dan pandangan yang dianggap benar.
Ø Karena sebagian pengetahuan didapat
dari teman dan yang menerangkan teman maka terkadang agak sulit dimengerti,
sebab pengetahuan terbatas.
BAB IV
PENUTUP
Dari uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran yang menekankan pada aspek kerjasama diantara
para anggotanya dimana di dalamnya ada ketergantungan yang positif, interaksi,
akuntabilitas serta ketrampilan individu dalam memproses kelompoknya. Tujuan
pembelajaran ini juga disesuaikan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk
memperoleh ilmu dan mendidik anak didik, maka tujuan pembelajaran kooperatif
yaitu meningkatkan hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan
pengembangan ketrampilan social. Dalam pembelajaran kooperatif maka setiap
anggota yang beragam ikut berpartisipasi secara aktif sesuai dengan setiap
pandangan yang mereka miliki masing – masing.
Banyak
model – model pembelajaran kooperatif namun secara umum proses pembelajaran
kooperatif adalah sebagai berikut :
Ø Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar.
Ø Mempresentasikan
informasi kepada paserta didik secara verbal.
Ø Memberikan
penjelasan kepada peserta didik tentang tata cara pembentukan tim belajar dan
membantu kelompok melakukan transisi yang efisien.
Ø Membantu
tim- tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya.
Ø Menguji
pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Ø Mempersiapkan
cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok.
Setiap
segala sesuatu pasti memiliki kelebihan dan kelemahan begitu pula dengan
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif mengajarkan bagaimana saling
bekerjasama dalam menyelesaikan suatu masalah secara berkelompok melalui
diskusi dengan teman lain yang memiliki pandangan dan pemikiran yang berbeda –
beda, melalui hal tersebut maka setiap anggota akan memiliki pandangan yang lebih
luas karena saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan sehingga
melalui semua itu kelompok dapat meyelesaikan tugas yang diberikan melalui
pemikiran bersama yang dianggap benar dan baik. .
Pembelajaran kooperatif ini sangat berguna dalam proses pembelajaran
yang dilakukan dalam pendidikan dimana pembelajaran kooperatif memberikan cara
yang berbeda dalam pengajaran yaitu dengan bekerjasama dengan anggota
kelompoknya dan memecahkan persoalan bersama dimana akan membantu para
peserta didik saling bertukar pengetahuan, pemikiran dan pengalaman mereka
untuk memperoleh sesuatu yang benar dan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Suprijono,
Agus. 2006 . Cooperative Learning ( Teori & Aplikasi PAIKEM ).
Drs.
Sugiyanto. Modul PLPG
www.
Wikipedia. Com
Comments
Post a Comment