Filsafat Pendidikan: Epismologi, Ontologi, Aksiologi Pengetahuan Sains
BAB 1
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Perkembangan
sebagai produk berpikir merupakan obor dan semen perdaban dimana manusiia
menemukan dirinya dan menghayati hidup denngan lebih sempurna. Berbagai
peralatan dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan
jalan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. Proses penemuan dan penerapan
itulah menghasilkan kapak dan batu zaman dulu sampai kontemporer saat ini.
Berbagai masalah memasuki benak pemikiran manusia dalam menghadapi kenyataan
hidup sehari-hari dan beragam buah pikiran telah dihasilkan sebagai bagian dari
sejarah keebudayaannya. Meskipun kelihatannya betapa banyak dan beraneka
ragamnya buah pemikiran itu, namun pada hakikatnya upaya mnusia dalm memperoleh
pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok yakni : apakah yang ingin kita
ketahuai (ontologi)?, bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan
(epistemologi)?, dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?(aksiologi).
Sedangkan untuk istilah ilmu
merupakan suatu kata yang sering diartikan dengan berbagai makna, atau
mengandung lebih dari satu arti. Pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental
yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita, sebab
secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajiian objek yang berada dalam
lingkup pengalaman manusia, sedangkan agama memasuki pulla daerah di luar
penjajahan yang bersifat diluar transendental yang berada diluar pengalaman
kita. Setiap pengetahuan yang dimiliki manusia selalu dipertanyakan dan
dikritisi oleh diri sendiri maupun orang lain. Bahwa pengetahuan yang
dimilikinya adalah pengetahuan tentang “apa” atau apanya yang perlu diketahui
maka jawabanya ada pada ontologi pengetahuan itu sendiri. Adapun pertanyaan
bagaimana cara menemukannya atau metode apa yang akan kita gunakan dalam
menemukan dan memeperoleh pengetahuan itu bagi manusia dan makhluk lainnya,
termasuk lingkungan dimana manusia berada, di sebut kajian aksiologi.
Ketiga dimensi utama filsafat diatas
yaitu ontologi merupakan asas dalam menetapkan batas atau ruang lingkup yang
menjadi objek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek
penelaahan tersebut. Epistemologi marupakan asas mengenai cara bagaimana materi
pengetahuan diperoleh dan disususn menjadi suatu tubuh pengetahuan. Aksiologi
merupakan asas dalam menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disususn
dalam tubuh pengetahuan tersebut, yang mana ketiganya merupakan tiang penyangga
bagi tubuh pengetahuan yang disusunnya.
I.2 Rumusan
Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah
ini ialah :
1.
Apakah yang di maksud dengan sains ?
2.
Apakah yang dimaksud dengan ontologi,epistemologi,aksiologi sains ?
I.3.Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini ialah :
1.
Agar dapat mengetahui
apa yang dimaksud dengan sains
2.
Agar dapat mengetahui
dengan ontologi,epitemologi,dan aksiologi sains
BAB
II
PEMBAHASAN
EPISTIMOLOGI, ONTOLOGI, AKSIOLOGI, PENGETAHUAN
SAINS
Sains
merupakan kebutuhan pokok bagi setiap individu untuk menghadapi zaman yang
penuh dengan persaingan ini. Karena dengan sains, seseorang bisa dihormati dan
diakui keberadaannya oleh masyarakat. Selain itu, sains juga menjadi salah satu
indikator kemajuan suatu bangsa, karena pada dasarnya semua bidang kehidupan
memerlukan sains. Sains atau ilmu pengetahuan pada zaman klasik tak terpisah
dengan filsafat. Filsafat mengambil pengetahuan yang terpotong-potong dari
berbagai ilmu, kemudian mengaturnya dalam pandangan hidup yang lebih sempurna
dan terpadu. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, doktrin
positifisme yang hanya memusatkan diri pada hal yang faktual pun mulai
merajarela. Ia semakin perkasa dan seakan-akan membenarkan bahwa teologis,
metafisis adalah masa kanak-kanak pertumbuhan masyarakat dunia. Apalagi
teknologi yang semakin membantu manusia dalam berbagai aktivitasnya, misalnya
mobil, telepon, internet dan sebagainya, memberantas penghalang hubungan
manusia modern. Sehingga jarak dan waktu bukan jadi masalah lagi.
Tetapi di tengah kemajuan teknologi tersebut, ada
masalah yang mulai menyelimuti manusia. Teknologi yang awalnya diciptakan untuk
melayani dan mempermudah manusia pada perjalanannya lain. Kini teknologi mulai
berbalik menyerang manusia. Manusia mulai kehilangan nilai-nilai
kemanusiaannya. Banyak kemajuan teknologi yang justru merusak lingkungan dan
nilai kemanusiaan.
Para
filsuf terdahulu seperti Aristoteles dan Plato selalu mendasarkan
penyelidikannya pada metafisika. Plato misalnya, menyatakan bahwa pengetahuan yang
kita punya saat ini adalah bawaan dari alam idea. Proses berfikir ia samakan
dengan proses mengingat apa-apa yang pernah dilihat oleh manusia di alam idea
dahulu. Baginya, pengetahuan manusia bersifat apriori (mendahului pengalaman).
Begitu pula dengan para filsuf-filsuf sebelumnya. Ilmu pengetahuan mengisi
filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat
perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan yang juga filsuf.
II.1 Pengertian
Sains
Kata
sains berasal dari bahasa latin ” scientia ” yang berarti pengetahuan.
memandang dan mengamati keberadaan (eksistensi) alam ini sebagai suatu objek.
Berdasarkan Webster New Collegiate Dictionary definisi dari sains adalah
pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian atau pengetahuan
yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi
misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah.
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, sains berarti :
1.
Ilmu teratur (sistematis)
yang dapat diuji kebenarannya
2.
Ilmu yang berdasarkan
kebenaran atau kenyataan semata (fisika, kimia dan biologi).
Sains
merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya menggambarkan dan
memberi makna pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran yang lengkap dan konsisten
tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin paling
sederhana (simple possible terms). Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah
sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan
eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi
di alam.
Menurut
Sidi Gazalba, ada beberapa macam jenis ilmu pengetahuan, antara lain :
1)
Ilmu praktis
Ilmu yang
tidak hanya sampai kepada hukum umum atau abstraksi, tidak hanya terhenti pada
teori, tapi menuju kepada dunia kenyataan. Ia mempelajari hukum sebab dan
akibat untuk diterapkan dalam alam kenyataan. Ilmu ini terbagi dua, yaitu :
2)
Ilmu Praktis Normatif
Ilmu yang
memberikan ukuran-ukuran dan norma-norma.
3)
Ilmu praktis Positif
Ilmu yang
memberikan ukuran atau norma yang lebih khusus daripada ilmu praktis normatif.
Norma yang dikaji ialah bagaimana membuat sesuatu tindakan apa yang harus
dilakukan untuk mencapai hasil tertentu.
4)
Ilmu spekulatif-ideografis
Ilmu yang
bertujuan mengkaji kebenaran obyek dalam ujud nyata dalam ruang waktu tertentu.
5)
Ilmu spekulatif-nomotetis
Ilmu
pengetahuan yang bertujuan mendapatkan hukum umum atau generalisasi substantif.
6)
Ilmu spekulatif-teoritis
Ilmu yang
bertujuan memahami kausalitas. Tujuannya agar memperoleh kebenaran atau keadaan
dari pristiwa tertentu (Sidi gazalba:1992:40).
Pengetahuan
yang kian hari kian bertambah ini, pada dasarnya bersumber pada tiga macam
sumber (Juhaya S. Praja:2003:11). Yaitu :
a)
Pengetahuan yang langsung diperoleh
b)
Hasil dari suatu konklusi
c)
Pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian dan otoritas.
II.2 Ontologi
Sains
Ontologi
sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang hakekat dan struktur sains. Dan
hakikat sains menjawab pertanyaan apa sains itu sebenarnya, dan struktur sains
menjelaskan tentang cabang-cabang sains.
Ø Hakikat
Sains
Pada pembelajaran hakikat sains ini ada dua
pengetahuan yaitu pengetahuan rasional dan pengetahuan empiris. Yang pertama masalah
rasional. Jika kita meneliti suatu kejadian dan memberikan suatu kesimpulan
sementara atau hipotesis dan hipotesis itu harus berdasarkan rasional dan
penelitian itu harus berdasarkan rasional dan penelitian ini berdasarkan sebab
akibat.
Dalam garis besar sains
dibagi menjadi dua; yaitu sains kealaman dan sains sosial, yang menjelaskan
struktur sains dalam bentuk nama-nama ilmu.
a. Sains
Kealaman
è Astronomi
è Fisika :
mekanika, bunyi, cahaya, dan optic, fisika, nuklir;
è Kimia :
kimia organik, kimia teknik
è Ilmu bumi : paleontology, ekologi, geofisika, geokimia, mineralogy, geografi.
è Ilmu
hayat : biofisika, botani, zoology.
b. Sains
Sosial
è Sosiologi : sosiologi komunikasi, sosiologi
politik, sosiologi pendidikan.
è Antropologi
: antropologi
budaya, antropologi ekonomi, antropologi politik
è Psikologi
: psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal
è Ekonomi :
ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan.
è Politik :
politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional.
Ø Karakteristik
Sains
Sejarah
membuktikan bahwa dengan metode sains telah membawa manusia pada kemajuan dalam
pengetahuan. Randall dan Buchker mengemukakan beberapa ciri umum sains, antara
lain :
·
Hasil sains bersifat
akumulatif dan merupakan milik bersama.
- Hasil sains kebenarannya tidak mutlak dan
bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah manusia.
·
Sains bersifat objektif.
Ralph
Ross dan Ernest Van den Haag mengemukakan ciri-ciri sains, yaitu :
1.
Bersifat rasional (hasil
dari proses berpikir dengan menggunakan rasio atau akal).
2.
Bersifat empiris
(pengalaman oleh panca indra).
3.
Bersifat umum (hasil sains
bisa digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali).
4.
Bersifat akumulatif (hasil
sains dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian berikutnya).
II.3
Epistimologi Sains
Epistimologi
adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan.
Epistimologi sains menjelaskan tentang objek pengetahuan sains, cara memperoleh
pengetahuan sains, cara mengukur benar tidaknya pengetahuan sains.
Ø Objek
Pengetahuan sains
Objek pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang
diteliti sains) ialah semua objek yang empiris. Menurut Jujun. S dalam Ahmad
Tafsir mengatakan bahwa objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam
ruang lingkup pengalaman manusia (2010:27).
Yang dimaksud pengalaman di sini ialah
pengalaman indera. Bukti empiris ini di perlukan untuk menguji bukti rasional
yang telah di rumuskan dalam hipotesis. Objek-objek yang dapat diteliti sains
seperti alam, tumbuhan, hewan, dan manusia serta kejadian di sekitar alam,
tumbuhan, hewan, dan manusia. Dari penelitian itulah muncul teori-teori sains.
Ø Proses
diperolehnya Pengetahuan Sains
Memperoleh
sains didorong oleh beberapa paham, diantaranya:
a) Paham
Humanisme merupakan salah satu paham filsafat yang mengajarkan
bahwa manusia dapat mengatur dirinya dan alam.
b)
Paham Rasionalisme ialah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal
digunakan untuk mencari dan mengukur pengetahuan.
c)
Paham Empirisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang
benar ialah yang logis dan ada bukti empiris.
d)
Paham Positivisme menyatakan bahwa kebenaran adalah logis ,ada
bukti empirisnya, yang terukur. “terukur” inilah sumbangan penting positivisme.
Metode ilmiah mengatakan , untuk memperoleh yang benar dilakukan langkah
berikut : logico-hypothetico-verificatif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa
itu logis, kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.
Ø Ukuran
Kebenaran Pengetahuan Sains
Hipotesis
(dalam Sains) ialah pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada
bukti empirisnya.
Teori
–teori kebenaran :
a. Korespondesi
Sebuah
pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh
pernyataan : bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya,
pernyataan ini benar karena kenyataannya demikian. Kedua, kota Jakarta ada di
pulau Jawa, pernyataan ini benar karena sesuai dengan fakta. Korespondesi
memakai logika induksi.
b. Koherensi
Sebuah
pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan sebelumnya
yang dianggap benar. Contoh pernyataan : Dika akan mati, pernyataan ini sesuai
(koheren ) dengan pernyataan sebelumnya bahwa semua manusia akan mati dan Dika
adalah manusia. Terlihat disini, logika yang dipakai dalam koherensi adalah
logika deduksi.
c. Pragmatik
Sebuah
pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional) dalam situasi praktis.
Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan
korespondesi. Jika ada dua teori keilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua
teori diatas , maka yang diambil adalah teori yang lebih mudah dipraktekkan.
Agama dan
seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini. Agama dengan satu
peryataannya misalnya Tuhan ada, pernyataan ini benar secara pragmatik (adanya
Tuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikanya
teratur), lepas dari apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak,
konsisten dengan pernyataan sebelumnya atau tidak.
II.4 Aksiologi
Sains
Aksiologi
ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya ditinjau
dari sudut pandang kefilsafatan (Kallsolt, 2004:318). Tafsir (2007: 25)
berpendapat bahwa aksiologi adalah penerapan pengetahuan, jadi dibahas mulai
dari klasifikasinya, kemudian dengan melihat tujuan pengetahuan itu sendiri,
akhirnya dilihat perkembangannya. Aksiologi sains membahas tentang kegunaan
sains, cara sains menyelesaikan masalah, dan netralitas sains. Sebenarnya yang
kedua merupakan contoh aplikasi yang pertama.
Ø
Kegunaan Pengetahuan Sains
·
Teori sebagai Alat
Eksplanasi
Menurut
T. Jacob dalam Ahmad Tafsir mengatakan bahwa sains merupakan suatu system
eksplanasi yang paling dapat di andalkan dibandingkan dengan system lainnya
dalam memahami masa lampau, sekarang, serta merubah masa depan
·
Teori sebagai Alat Peramal
Ketika
membuat eksplanasi, biasanya ilmuwan telah mengetahui faktor penyebab
terjadinya gejala itu.Dengan mempertimbangkan factor penyebab itu, ilmuwan
membuat ramalan. Dalam bahasa ilmuwan ramalan disebut prediksi, untuk
membedakan dari ramalan dukun.
·
Teori sebagai Alat
Pengontrol
Eksplanasi
merupakan bahan untuk membuat prediksi dan control. Ilmuwan, selain mampu
membuat prediksi berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat control.
Sebagai contoh agar kurs rupiah menguat, perlu di tangguhkan pembayaran hutang
yang jatuh tempo, jadi pembayaran hutang di undur.
Kita
dapat mengontrol kurs rupiah terhadap dolar agar tidak naik dengan cara
menangguhkan pembayaran hutang terhadap dolar atau dengan menangguhkan
pembangunan proyek yang memerlukan bahan import. Kontrol merupakan tindakan
yang di duga dapat mencegah terajdinya gejala yang tidak diharapkan.
Ø Cara Sains
Menyelesaikan Masalah
Sains menyelesaikan masalah dengan cara yang
pertama, mengidentifikasi masalah. Kedua, mencari teori tentang
sebab-sebab masalah tersebut. Ketiga, kembali membaca literature lagi.
Ilmuan dalam studinya
tentang sekelompok fenomena melakukan tiga tahapan kerja, antara lain :
·
Mula-mula sekali di himpun
fakta-fakta atau data dari obyek studinya. Apabila fakta-fakta telah terkumpul,
maka dapat melangkah ketahap berikutnya.
·
Pelukisan fakta-fakta, dengan cara :
·
Membentuk defenisi dan pelukisan umum
·
Melakukan analisis tentang fakta-fakta itu
·
Mengklasifikasikan fakta-fakta itu.
Setelah
fakta-fakta ini terlukiskan maka sampailah ia ke tahap terakhir :
Penjelasan
fakta-fakta dengan jalan sebagai berikut :
·
Menentukan sebab-sebab
(dengan menentukan hal-hal yang mendahului peristiwa)
·
Merumuskan hukum (dengan
penentuan keserba tetapan peristiwa)
Ada juga
cara kerja sains yang menurut sebagian pendapat para ahli seperti berikut :
·
Mengumpulan tentang
fakta-fakta
·
Gambaran tentang
fakta-fakta, dengan cara :
·
Definisi dan gambaran umum
·
Analisis
·
Klarifikasi
·
Penjelasan-penjelasan tentang fakta-fakta,
dengan cara :
·
Memastikan sebab akibat
·
Merumuskan berbagai
kesamaan perilaku
Ø Netralitas
Sains
Menurut
John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran
atau suatu sistem seperti politik, sosial, agama.
Perkembangan
yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena
kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai
Netralitas pengetahuan (value free). Sekarang mana yang lebih unggul antara
netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai.
Netral biasanya
diartikan tidak memihak. Dalam kata “sain netral” pengertian itu juga terpakai.
Artinya sains tidak memihak pada kebaikan dan tidak juga pada kejahatan. Itulah
sebabnya istilah sains netral sering diganti dengan istilah sains bebas nilai
(value free). Sedangkan lawannya ialah sains terikat (value bound). Sains
netral mempunyai keuntungan bahwa sains netral perkembangannta akan cepat
terjadi karena tidak ada yang menghambat atau menghalangi tatkala peneliti
memilih dan menetapkan objek yang hendak diteliti, cara meneliti, dan tatkala
menggunakan produk penelitian.
Ø Kelebihan
dan kekurangan Sains
Ada
beberapa kelebihan sains, antara lain yaitu:
·
Sains telah memberikan banyak sumbangannya
bagi umat manusia, misalnya dalam perkembangan sains dan teknologi kedokteran,
sains dan teknologi komunikasi dan informasi.
·
Dengan sains dan teknologi memungkinkan
manusia dapat bergerak atau bertindak dengan cermat dan tepat, efektif dan
efisien karena sains dan teknologi merupakan hasil kerja pengalaman, observasi,
eksperimen dan verifikasi.
Sedangkan
kelemahan sains antara lain yaitu :
·
Sains bersifat objektif, menyampingkan
penilaian yang bersifat subjektif. Sains menyampingkan tujuan hidup, sehingga
dengan demikian sains dan teknologi tidak bisa dijadikan pembimbing bagi
manusia dalam menjalani hidup ini.
·
Sains membutuhkan pendamping dalam operasinya.
BAB
III
PENUTUP
III.1 KESIMPULAN
Sains
merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya menggambarkan dan
memberi makana pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran yang lengkap dan
konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin
paling sederhana (simple possible terms). Sains dalam hal ini merujuk kepada
sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan
dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang
terjadi di alam.
Epistimologi
adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan.
Epistimologi sains menjelaskan tentang objek pengetahuan sains, cara memperoleh
pengetahuan sains, cara mengukur benar tidaknya pengetahuan sain
Ontologi
sains merupakan ilmu yang mempelajari tentang hakekat dan struktur sains. Dan
hakikat sains menjawab pertanyaan apa sains itu sebenarnya, dan struktur sains
menjelaskan tentang cabang-cabang sains.
Aksiologi
ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang umumnya ditinjau
dari sudut pandang kefilsafatan (Kallsolt, 2004:318). Tafsir (2007: 25)
berpendapat bahwa aksiologi adalah penerapan pengetahuan, jadi dibahas mulai
dari klasifikasinya, kemudian dengan melihat tujuan pengetahuan itu sendiri,
akhirnya dilihat perkembangannya. Aksiologi sains membahas tentang kegunaan
sains, cara sains menyelesaikan masalah, dan netralitas sains. Sebenarnya yang
kedua merupakan contoh aplikasi yang pertama.
III.2 SARAN
Dari
pemaparan tentang ontologi,epistemologi,dan aksiologi pengetahuan sains ini.
penulis menyarankan agar kiranya makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi
sumber pembelajaran
dan acuan referensi serta dapat menambah pengetahuan bagi pembaca mengenai
ontologi,epistemologi,dan aksiologi pengetahuan sains ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Tafsir Ahmad, Filsafat
Mengurai Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2010)
Comments
Post a Comment