Model Pembelajaran Inquiri
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Sejak zaman Aristoteles, pendidikan yang
mengajarkan pengetahuan tentang membuat kesimpulan daripada mengajarkan fakta
dan prosedur. Menemukan sendiri fakta dan prosedur tentu lebih bermakna
daripada hanya diberikan dan kemudian dihafalkan. Pembelajaran inkuiri mengajak
siswa untuk melakukan investigasi, menyintesis, merumuskan hipotesis dan
mengujinya melalui data dan fakta yang diperoleh, serta menarik kesimpilan.
Kegiatan tersebut memberikan dua hal pada siswa, yakni memahami tentang konsep
serta pengetahuan tentang metode ilmiah itu sendiri.
Latihan inkuiri dimulai dengan menyajikan kejadian yang sedikit
membingungkan (puzzling event) pada siswa (Joyce, 2009). Suchman (Joyce, 2009)
percaya bahwa individu yang dihadapkan pada situasi semacam ini secara alamiah
akan termotivasi untuk menyelesaikannya. Jadi dapat menggunakan kesempatan yang
disediakan oleh inkuiri untuk mengajarkan prosedur – prosedur ilmiah yang
terstruktur.
Dalam beberapa buku ada menyebut inquiri ini sebagai model, sebagai
strategi atau juga sebagai pendekatan atau metode. Berpatokan pada Bell (1978),
inkuiri ini dikelompokan pada model pembelajaran yang berkaitan dengan objek
tak langsung matematika. Artinya, model inkuiri merupakan salah satu model yang
dapat digunakan dalam mengajrakan pembuktian teorema, pemecahan masalah ,
learning how to learn, transfer of learning, dan sikap terhadap matematika.
Menurut Joyce (2009) mengelompokan pembelajaran ini pada kelompok model yang
memproses informasi (information-processing family), yakni bagaimana kita dan
para siswa dapat memperoleh, mengelola, dan menjelaskan informasi.
Model ini membahas tentang pembelajaran inkuiri yang dibagi dalam 2
kegiatan. Kegiatan belajar 1 membahas landasan teori, pengertian, tujuan, serta
beberapa jenis dalam model inkuiri. Pada kegiatan ke 2 pembahasan difokuskan
pada perencanaan dan implementasi model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran
matematika sekolah.
Pembatasan
masalah dilakukan agar penulisan terarah, terfokus, dan tidak menyimpang dari
sasaran pokok penulisan. Oleh karena itu penyusun memfokuskan kepada pembahasan
atas masalah-masalah pokok yang dibatasi dalam konteks permasalahan terdiri
dari:
1. Apa
yang dimaksud dengan metode pembelajaran inquiry?
2.
Apa Konsep dasar metode pembelajaran inquiry
3. Bagaimana
aplikasi mengenai metode pembelajaran inquiry?
4. Bagaimana
strategi metode pembelajaran inquiry?
5. Apa
saja kelemahan dan kelebihan dari metode pembelajaran inquiry?
1. Mengetahui
yang dimaksud Starategi pembelajaran inquiry.
2. Mengetahui Konsep Dasar metode pembelajaran
inquiry
3. Mengetahui aplikasi mengenai metode
pembelajaran inquiry
4. Mengetahui
strategi pembelajaran inquiry.
5. Mengetahui
kelemahan dan kelebihan dari strategi pembelajaran inquiry
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Metode Pembelajaran Inkuiri Menurut Para Ahli
Adapun beberapa pengertian mengenai Metode Pembelajaran
Inkuiri menurut para ahli sebagai berikut:
1.
Phillips (dalam
Arnyana, 2007:39) mengemukakan “inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang
dapat diterapkan pada semua jenjang pendidikan. Pembelajaran dengan pendekatan
ini sangat terintegrasi meliputi penerapan proses sains yang menerapkan proses
berpikir logis dan berpikir kritis”.
2.
Sanjaya (2008:196)
berpendapat bahwa “strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan
pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis
untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan”.
3.
Syaiful Sagala
(2011:196), Metode inkuiri merupakan metode pembelajaran yang berupaya
menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa yang berperan sebagai
subjek belajar, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak
belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah.
4.
Aziz (Ahmad, 2011),
Metode inkuiri adalah metode yang menempatkan dan menuntut guru untuk membantu
siswa menemukan sendiri data, fakta dan informasi tersebut dari berbagai sumber
agar dengan kegiatan itu dapat memberikan pengalaman kepada siswa. Pengalaman
ini akan berguna dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dalam
kehidupannya.
5.
Winataputra (1992)
menambahkan pengertian pembelajaran berbasis inkuiri adalah metode yang dapat
mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains sebagai para
saintis mempelajari dunia alamiah.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa metode pembelajaran inkuiri adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan
siswa dalam memperoleh informasi dengan cara
proses berpikir logis dan analitis untuk memecahkan suatu masalah.
2. Konsep Dasar Metode Pembelajaran Inkuiri
Menurut Sanjaya (2012), metode pembelajaran Inkuiri adalah
strategi pembelajaran inkuiri, yakni rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses
berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui Tanya jawab antara guru dan
siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa
Yunani, yaitu heuriskein yang berarti
saya menemukan.
Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI) berangkat dari asumsi
bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan
sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam disekelilingnya
merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia. Sejak kecil manusia memiliki
keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera pengecapan, pendengaran,
penglihatan, dan indera-indera lainnya. Hingga dewasa keingintahuan manusia
secara terus-menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya.
Pengetahuan yang dimiki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu. Dalam rangka
itulah strategi inkuiri dikembangkan (Sanjaya, 2012:197). Ada beberapa hal yang
menjadi ciri utama metode pembelajaran inkuiri yang menurut Sanjaya (2012: 197)
adalah strategi pembelajaran inkuiri
yang meliputi:
1. Strategi inkuiri menekankan kepada
aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi
inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran,
siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru
secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri.
2. Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa
diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang
ditanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demikian, strategi
pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi
sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.
Aktivitas
pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses Tanya jawab antara guru dan
siswa. Oleh sebab itu, kemampuan guru dalam menggunakan tekhnik bertanya
merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
3. Tujuan dari penggunaan strategi
pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis,
logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari
proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak
hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka
dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya mnguasai
pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara optimal,
namun sebaliknya siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berfikirnya manakala
ia bisa menguasai materi pelajaran.
Metode pembelajaran inkuiri yang disebut Strategi
pembelajaran inkuiri oleh Sanjaya (2012) merupakan bentuk dari pendekatan
pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam
strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses
pembelajaran. Sanjaya (2012) mengatakan strategi pembelajaran inkuiri akan
efektif manakala:
1. Guru mengharapkan siswa dapat menemukan
sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian
dalam strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama
pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses belajar.
2. Jika bahan pelajaran yang akan
diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah
kesimpulan yang perlu pembuktian.
3. Jika proses pembelajaran berangkat dari
rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4. Jika guru akan mengajar pada sekelompok
siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. Strategi inkuiri
akan kurang berhasil diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan
untuk berpikir.
5. Jika jumlah siswa yang belajar tak
terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6. Jika guru memiliki waktu yang cukup
untuk mengguanakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
3.
Langkah Pelaksanaan Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Secara umum Sanjaya (2012: 199) mengemukakan bahwa proses
pembelajaran dengan mengguanakan strategi pembelajaran inkuiri dapat mengikuti
langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau
iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa
siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam strategi pembelajaran
ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengkondisikan agar siswa tiap menerima
pelajaran , pada langkah orientasi dalam SPI , guru merangsang dan mengajak
siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkan orientasi merupakan langkah
yang sangat penting. Keberhasilan stratgi pembelajaran inkuiri sangat tergantung
pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan
masalah; tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan
berjalan dengan lancar. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan
orientasi ini adalah
1)
Menjelaskan topik,
tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
2)
Menjelaskan
pokok-pokok kegiatan yang harus dilakuakn oleh siswa untuk mencapai tujuan.
Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah,
mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan merumuskan kesimpulan.
3)
Menjelaskan
pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka
memberikan motivasi belajar siswa.
b.
Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada
suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah
persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka teki itu.
Dikatakan teka teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah
itu tentu ada jawabannya dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat.
Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh
sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat
berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan
demikian, teka teki yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka teki yang
mengandung konsep yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam
pembelajaran inkuiri. Beberapa halyang harus diperhatiakan dalam merumuskan
masalah, diantaranya:
1)
Masalah hendaknya
dirumusakn sendiri oleh siswa. Siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi
manakala dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Dengan
demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan sendiri masalah pembelajaran, guru
hanya memberikan topik yang akan dipelajari, sedangkan bagaimana rumusan
masalah yang sesuai dengan topik yang telah ditentukan sebaiknya diserahkan
kepada siswa.
2)
Masalah yang dikaji
adalah masalah yang mengandung teka teki yang jawabannya pasti. Artinya guru
dapat mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban
sebenarnya sudah ada, tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara
pasti.
3)
Konsep-konsep dalam
masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
Artinya sebelum masalah itu dikaji lebih jauh melalui proses inkuiri, guru
perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep
yang ada dalam rumusan masalah. Jangan harapkan siswa dapat melakukan tahapan
inkuiri selanjutnya, manakalaia belum paham konsep-konsep yang terkandung dalam
rumusan masalah.
c.
Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan
yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji
kebenarannya. Kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya
sudah dimiliki sejak individu itu lahir. Potensi berpikir itu dimulai dari
kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari
suatu permasalahan. Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia
akan sampai pada posisi yang bisa mendorong untuk berpikir lebih lanjut. Oleh
sebab itu, potensi untuk mengembangkan kemampuan menebak pada setiap individu
harus dibina. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan
kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan
berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban
sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari
suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang
perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga
hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir
logis itu sendiri akan sangat berpengaruh oleh kedalaman wawasan yang dimiliki
serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang
mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
d.
Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran
inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
pengembangan intelektal. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan
motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan
kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran gutu
dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong
siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi
kemacetan berinkuiri adalah manakal siswa tidak apresiatif terhadap pokok
permasalahan. Tidak apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala
ketidakbergairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam
ini, maka guru hendaknya secara terus menerus memberikan dorongan kepada siswa
untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada
seluruh siswa sehingga meraka terangsang untuk berpikir.
e.
Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang
dianggap diterima sesuai dengan data dan informasi yang diperoleh berdasarkan
pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari
tingkat keyakinan siswa atau jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji
hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berikir rasional. Artinya,
kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan
tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggung
jawabkan.
f.
Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumukan kesimpulan
merupakan gong-nya dalam proses
pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh,
menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak focus terhadap masalah yang hendak
dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru
mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
4.
Strategi Pembelajaran Inkuiri Sosial
Pada awalnya strategi pembelajaran inkuiri banyak diterapkan
dalam ilmu-ilmu alamm (natural science).
Namun demikian, para ahli pendidikan ilmu social mengadopsi strategi inkuiri
yang kemudian dinamakan inkuiri social. Hal ini didasarkan pada asumsi
pentingnya pembelajaran IPS pada masyarakat yang semakin cepat berubah, seperti
yang dikemukakan Wilkins (1990:85) yang menyatakan bahwa dalam kehidupan
masyarakat yang terus menerus mengalami perubahan, pengajaran IPS harus
menekankan kepada pengembangan berpikir. Terjadinya ledakan pengetahuan,
menurutnya, menuntut perubahan pola mengajar dari yang hanya sekedar mnegingat
fakta yang biasa dilakukan melalui strategi pembelajaran dengan metode kuliah (lecture) atau dari metode latihan (drill) dalam pola tradisional, menjadi
pengembangan berpikir kritis (critical thinking). Strategi
pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir itu adalah strategi
inkuiri sosial.
Menurut Joyce (2000), inkuiri social merupakan strategi
pembelajaran pembelajaran dari kelompok social (social falimy) subeklompok konsep masyarakat (concept of society). Subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa
metode pendidikann bertujuan untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang
dapat hidup dan dapat mempertinggi kualitas hidup masyarakat. Oleh karena
itulah siswa harus diberi pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan
persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap
individu akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi diri dan
masyarakat.
Inkuiri sosial dapat dipandang sebagai suatu strategi
pembelajaran yang berorientasi kepada pengalaman siswa. Menurut Joyce (2000),
lebih dari satu abad istilah inkuiri mengandung makna sebagai salah satu usaha
kea rah pembaruan pendidikan namun demikian, istilah inkuiri sering digunakan
dalam bermacam-macam arti. Ada yang mengguanakannya berhubungan dengan
mengembangkan strategi belajar yang berpusat pada siswa, ada juga yang
menghubungkan istilah inkuiri dengan mengembangkan kemampuan siswa untuk
menemukan dan merefleksikan sifat-sifat kehidupan sosial, terutama untuk
melatih siswa agar hidup mandiri dalam masyarakat.
Selanjutnya ada tiga karakteristik pengembangan strategi
inkuiri social. Pertama, adanya aspek
(masalah) sosial dalam kelas yang dianggap penting dan dapat mendorong
terciptanya diskusi kelas. Kedua, adanya
rumusan hipotesis sebagai fokus untuk inkuiri. Ketiga, penggunaan fakta sebagai pengujian hipotesis. Dari
karakteristik inkuiri seperti telah diuraikan diatas, maka tampak inkuiri
social pada dasarnya tidak berbeda dengan inkuiri pada umumnya. Perbedaannya
terletak pada masalah yang dikaji adalah masalah-masalah social atau masalah
kehidupan masyarakat.
5.
Keunggulan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Inkuiri
Di dalam pembelajaran inkuiri ini, terdapat beberapa
keunggulan dan juga kelemahan dalam penerapannya. Adapun keunggulan dan
kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Keunggulan
Keunggulan metode pembelajaran inkuiri yang diungkap Sanjaya
(2012) ialah strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang
banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan,
diantaranya:
1) Strategi pembelajaran inkuiri merupakan
strategi pembelajaran yang menekankan pada pengembangan aspek kognitif,
afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi
ini dianggap lebih bermakna.
2) Strategi pembelajaran inkuiri dapat
memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
3) Strategi pembelajarn inkuiri merupakan
strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang
menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman.
4) Keuntungan lain adalah strategi
pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas
rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan
terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
b.
Kelemahan
Kelemahan metode pembelajaran inkuiri yang diungkap Sanjaya,
(2012: 208) menyatakan bahwa disamping memiliki keunggulan, strategi
pembelajaran inkuiri mempunyai kelemahan, diantaranya:
1) Jika SPI digunakan sebagai strategi
pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2) Strategi ini sulit dalam merencanakan
pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3) Kadang-kadang dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
4) Selama kriteria keberhasilan
belajar ditentukan oleh kemampuan siswa
menguasai materi pelajaran, maka strategi pembelajaran inkuiri akan sulit
diimplementasikan oleh setiap guru.
6.
Alasan Pemilihan Metode
Alasan saya memilih metode ini karena sudah sesuai dengan
metode yang ditetapkan dalam kurikulum 2013. Metode ini sangat efektif
dilaksanakan dalam pembelajaran sejarah karena peserta didik dituntut lebih
aktif dalam proses penemuan, penempatan peserta didik lebih banyak belajar
sendiri serta dapat mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah yang
diperolehnya. Dalam penerapannya metode ini akan menciptakan kondisi belajar
yang efektif dan kondusif sertadapat mempermudah proses pembelajaran.
Dengan pembelajarn metode ini peserta didik akan diasah
untuk berfikir secara kritis dan edukatif. Peserta didik diminta untuk mandiri
dalam proses pembelajaran dan membangun pengetahuan yang sudah diperolehnya
terlebih dahulu. Peran siswa dalam pembelajaran mencari dan menemukan sendiri
materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing
siswa untuk belajar. Pembelajaran ini merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran
yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses
berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan
siswa.
Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk
mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga
diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan
demikian, pada pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai satu-satunya
sumber belajar, tetapi lebih diposisikan sebagai fasilitator dan motivator
belajar siswa. pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar
juga berorientasi pada proses belajar.
7.
Inkuri dan Pembelajaran Sejarah
Pendekatan sosial perlu dikembangkan mengingat proses-proses
sosial akan dialami oleh anak didik sehingga kegiatan belajar mengajar harus
membantu anak didik untuk mengembangkan kemampuan hubungan dengan masyarakat
dan hubungan antarpribadi. Strategi pembelajaran inkuiri sosial memungkinkan
siswa berpikir dan mencari fakta-fakta, informasi, atau data yang mendukung
pembuktian hipotesis dalam situasi bebas dan terarah. Peranan guru dalam metode
pembelajaran ini (Trianto, 2007:136) adalah
a.
Motivator, memberi
rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berpikir.
b.
Fasilitator,
menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan.
c.
Penanya, menyadarkan
siswa dari kekeliruan yang mereka buat.
d.
Administrator,
bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelas.
e.
Pengarah, memimpin
kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
f.
Manajer, mengelola
sumber belajar, waktu dan organisasi kelas.
g.
Rewarder, memberi
penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.
Guna mempersiapkan pembelajaran dengan menggunakan model
inkuiri sosial beberapa cara dapat digunakan untuk membangkitkan episode
inkuiri antara lain (Wahab, 2007:99):
a.
Inkuiri didasarkan
kepada artefak yaitu benda-benda hasil kepandaian manusia. Misalnya siswa
diminta mempelajari makna simbol yang terdapat pada mata uang bangsanya.
b.
Inkuiri berdasarkan
situasi masalah yang diminta pemecahannya. Contohnya perilaku pemecahan
masalah.
c.
Inkuiri berdasarkan
isu-isu yang kontroversial atau kejadian sekarang. Misalnya adanya protes dari
penduduk sutau wilayah tentang kurangnya perhatian terhadap
peninggalan-peninggalan pada jaman prasejarah.
d.
Inkuiri berdasarkan
pada konsep-konsep yang ditemukan dalam pelajaran. Misalnya mempelajari
bagaimana kontak dengan budaya lain mempengaruhi cara kehidupan. Misalnya
kontak-kontak yang dilakukan oleh suku terasing dengan kelompok masyarakat lain
dan pengaruhnya terhadap suku terasing tersebut.
e.
Inkuiri yang
didasarkan pada potret dan ilustrasi. Gambar dan ilustrasi berfungsi untuk
meningkatkan ketelitian terhadap konsep yang dikemukakan dalam buku teks
Sejarah. Untuk itu misalnya guru dapat mengajukan pertanyaan kepada siswa, 1.
Apa hubungan antara gambar/ilustrasi tersebut dengan materi yang kita
bicarakan?
Sebagai contoh penerapan model inkuiri sosial dalam pembelajaran (Wena, 2009:84):
Sebagai contoh penerapan model inkuiri sosial dalam pembelajaran (Wena, 2009:84):
Sebagai contoh penerapan model inkuiri sosial dalam
pembelajaran Sejarah dengan topik “Peninggalan-peninggalan
Di Jaman Prasejarah”.
Tabel
|
No.
|
Tahap Pembelajaran
|
Kegiatan Guru
|
Kegiatan Siswa
|
|
1.
|
Orientasi
|
a.
Menjelaskan topik
dan tujan, yaitu tentang peninggalan prasejarah
b.
Memberikan contoh
beberapa peninggalan prasejarah.
c.
Membimbing siswa
untuk melakukan analisis terhadap prninggalan prasejarah
d.
Merangsang siswa
untuk mengajukan pertanyaan berkaitan peninggalan prasejarah.
e.
Membimbing untuk
mengkaji hubungan antar data yang ditemukan terkait peninggalan prasejarah.
|
a.
Memahami topik dan
tujuan tentang peninggalan prasejarah
b.
Menerima contoh
beberapa peninggalan prasejarah.
c.
Melakukan analisis
terhadap prninggalan prasejarah.
d.
Melakukan tanya
jawab berkaitan peninggalan prasejarah.
e.
Mengkaji hubungan
antar variable/data pada contoh kasus yang ditemukan terkait peninggalan
prasejarah.
|
|
2.
|
Merumuskan Masalah
|
a.
Membantu siswa
mengembangkan hipotesis terkait peninggalan prasejarah.
b.
Membantu siswa
menguji kebenaran atas data-data yang terkumpul terkait dengan peninggalan
prasejarah.
c.
Membantu siswa
mencari fakta/bukti atas hipotesis yang diajukan.
|
a.
Mengembangkan
hipotesis terkait peninggalan prasejarah.
b.
Menguji kebenaran
data-data dengan memanfaatkan media yang ada (buku, internet)
c.
Mencari fakta/bukti
atas hipotesis yang diajukan.
|
|
3.
|
Merumuskan
hipotesis
|
a.
Membimbing untuk
mengklarifikasi dan mendefinisikan hipotesis.
b.
Membimbing siswa
merumuskan hipotesis
|
a.
Melakukan
klarifikasi hipotesis.
b.
Merumuskan
hipotesis
|
|
4.
|
Pengumpulan Bukti
dan Fakta
|
a.
Membimbing siswa
untuk mengumpulkan fakta dan bukti yang dibutuhkan untuk mendukung hipotesis
melalui buku, internet, dan sebagainya
b.
Membimbing siswa
cara-cara mengumpulkan fakta, bukti, data yang mendukung hipotesis.
c.
Mendorong siswa
melakukan untuk belajar meverivikasi, mengkategorikan data.
|
a.
Melakukan
pengumpulan data, fakta, bukti yang mendukung hipotesis melalui buku,
internet, dan sebagainya
b.
Mengumpulkan fakta,
bukti, data yang mendukung hipotesis.
c.
Melakukan
verifikasi, kategori data.
|
|
5.
|
Menguji Hipotesis
|
a.
Membantu siswa
memperluas hipotesis yang diajukan.
b.
Membantu mengkaji
kualitas dan kekurangan hipotesis.
c.
Meyakinkan siswa
atas kebenaran/fakta yang menjadi jawaban dari rumusan hipotesis dan dari
data-data yang telah terkumpul
|
a.
Memperluas
hipotesis yang diajukan.
b.
Mengkaji kualitas
dan kekurangan hipotesis.
c.
Menerima
kebenaran/fakta yang menjadi jawaban rumusan hipotesis dan dari data-data
yang telah terkumpul.
|
|
6.
|
Merumuskan
Kesimpulan
|
a.
Membantu siswa
mengungkapkan penyelesaian masalah yang dipecahkan, yaitu dengan memberikan
kesimpulan atas beberapa hasil uji hipotesis
b.
Membimbing siswa
untuk mencoba mengembangkan beberapa kesimpulan.
c.
Membimbing siswa
untuk menganalisis masing-masing kesimpulan yang telah dibuat.
d.
Membimbing siswa
untuk memilih pemecahan masalah yang paling tepat
|
a.
Mengungkapkan
penyelesaian masalah yang dipecahkan, yaitu memberikan kesimpulan atas beberapa hasil uji hipotesis
b.
Mengembangkan
beberapa kesimpulan.
c.
Melakukan analisis
atas masing-masing kesimpulan yang telah dibuat.
d.
Melakukan pemilihan
pemecahan masalah yang paling tepat
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembelajaran inkuiri merupakan proses kolaboratif antara guru dan siswa
dalam kegiatan pembelajaran. Dalam prosesnya, siswa dapat mengajukan
pertanyaan, mengeksplorasikan jawaban dan penyelesain suatu masalah yang
diberikan oleh guru.
Pembelajaran inkuiri mendorong siswa untuk menguji kemampuan siswa dalam
mengelola dan mengaplikasikan bentuk konsep keilmuan yang telah mereka pelajari
dengan masalah dunia nyata dari mulai yang sederhana hingga masalah yang
komfleks.
Strategi
pembelajaran inquiry menyatakan bahwa guru sebagai sumber belajar bukanlah yang
satu-satunya, masih banyak lagi sumber belajar yang dapat menunjang
keberhasilan pembelajaran. Guru hanyalah sebagai fasilitator, pembimbing yang
selalu mengarahkan siswa dalam pembelajaran.
Siswa
didesain sebagai penemu atau mencari pengetahuan itu, tugas seorang guru dalam
mengelola siswa agar mendapatkan pengetahuan dan menjadi bermakna. Karena
dengan bermakna pengetahuan akan masuk kedalam pengetahuan mereka, sehingga
akan selalu terkenang oleh siswa. Siswa yang melakukan semuanya guru hanya
menyiapkan, karena murid yang melakukan maka pembelajaran akan menjadi
pengalaman yang bermakna untuk siswa.
Saran
untuk para guru jika menggunakan strategi pembelajaran inquiry harus mengikuti prosedur
yang ada dan harus disesuaikan dengan waktu yang dimiliki, karena strategi
pembelajaran inquiry ini sangat membutuhkan waktu yang panjang.
Karena
makalah ini belum sempurna maka penulis mengharapkan saran yang membangun agar
dapat bermanfaat bagi semua dan demi perbaikan makalah selanjutnya.
DAFTAR RUJUKAN
Hamruni.
2012. Strategi Pembelajaran.
Yogyakarta: Insan Madani.
Sanjaya,
Wina. 2012. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.
Sudrajat, Akhmad.
2011. Pembelajaran Inkuiri. [serial
online]
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/09/12/pembelajaran-inkuiri/. [diakses pada tanggal 14 November
2014]
Yulianto, Toto. 2013.
Metode Inkuiri. [serial online]
http://totoyulianto.wordpress.com/2013/03/02/metode-inkuiri-i-metode-pembelajaran/. [diakses pada tanggal 14 November
2014]
Comments
Post a Comment