Metode Pembelajaran Konvensional
A.
Pengertian Metode Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya
adalah proses penambahan informasi dan kemampuan, ketika berfikir informasi dan
kompetensi apa yang dimaksud oleh siswa, maka pada saat itu juga kita
semestinya berfikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat
tercapai secara efektif dan efesien. Ini sangat penting untuk dipahami oleh
setiap guru, sebab apa yang harus dicapai akan menentukan bagaimana cara mencapainya.
Seorang guru dituntut untuk menguasai metode pembelajaran yang dilakukannya
akan dapat memberikan nilai tambah bagi anak didiknya. Selanjutnya yang tidak
kalah pentingnya dari nilai proses pembelajarannya adalah hasil belajar yang optimal atau maksimal.
Banyak defenisi mengenai
metode pembelajaran ini yang dijumpai dalam berbagai literatur Muhammad Atiyah
Al-Abrasyi, mendefenisikan “jalan yang harus diikuti untuk memberikan kefahaman bagi peserta didik segala macam
pelajaran dalam segala mata pelajaran”.
Dari berbagai defenisi
mengenai metode pembelajaran yang telah dikemukakan dapat disimpulkan dalam
kalimat pendek bahwa metode ialah jalan atau cara-cara yang digunakan pendidik
dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
B.
Metode Pembelajaran Konvensional
Salah satu model pembelajaran
yang masih berlaku dan sangat banyak digunakan oleh guru adalah model
pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvesional. Pembelajaran konvensional
mempunyai beberapa pengertian menurut para ahli, Menurut Djamarah (1996),
metode pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau
disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah
dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam
proses belajar dan pembelajaran. Dalam pembelajaran sejarah metode konvensional
ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan serta pembagian tugas
dan latihan. Sedangkan Freire
(1999), memberikan istilah terhadap pengajaran seperti itu sebagai suatu
penyelenggaraan pendidikan ber “gaya bank” penyelenggaraan pendidikan hanya
dipandang sebagai suatu aktivitas pemberian informasi yang harus “ditelan” oleh
siswa, yang wajib
diingat dan dihafal.
Pembelajaran pada metode
konvesional, peserta didik lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di depan
kelas dan melaksanakan tugas jika guru memberikan latihan soal-soal kepada
peserta didik. Yang sering digunakan pada pembelajaran konvensional antara lain
metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode penugasan.
C.
Ciri-ciri Pembelajaran Konvensional
Secara umum, (Djamarah, 1996) menyebutkan
ciri-ciri pembelajaran konvensional sebagai berikut:
·
Peserta didik adalah penerima informasi secara
pasif, dimana peserta didik menerima pengetahuan dari guru dan pengetahuan
diasumsinya sebagai badan dari informasi dan keterampilan yang dimiliki sesuai
standar.
·
Belajar secara individual
·
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
·
Perilaku dibangun berdasarkan kebiasaan
·
Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan
bersifat final
·
Guru adalah penentu jalannya proses
pembelajaran
·
Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik
·
Interaksi di antara peserta didik kurang
·
Guru sering bertindak memperhatikan proses
kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.
Namun perlu diketahui bahwa pembelajaran
dengan model ini dipandang cukup efektif atau mempunyai keunggulan, terutama:
1. Berbagai
informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain
2. Menyampaikan
informasi dengan cepat
3. Membangkitkan
minat akan informasi
4. Mengajari
peserta didik yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan
5. Mudah
digunakan dalam proses belajar mengajar.
Sedangkan
kelemahan dari pembelajaran model ini, menurut Suyitno (dalam Sulistiyorini,
2007) antara lain sebagai berikut:
1. Kegiatan
belajar adalah memindahkan pengetahuan dari guru ke peserta didik. Tugas guru
adalah memberi dan tugas peserta didik adalah menerima.
2. Kegiatan
pembelajaran seperti mengisi botol kosong dengan pengetahuan. Peserta didik
merupakan penerima pengetahuan yang pasif.
3. Pembelajaran
konvensional cenderung mengkotak-kotakkan peserta didik.
4. Kegiatan
belajar mengajar lebih menekankan pada hasil daripada proses.
5. Memacu
peserta didik dalam kompetisi bagaikan ayam aduan, yaitu peserta didik bekerja
keras untuk mengalahkan teman sekelasnya. Siapa yang kuat dia yang menang.
D.
Pendekatan Pembelajaran Konvensional
Ujang Sukandi (2003),
mendefenisikan bahwa pendekatan konvensional ditandai dengan guru mengajar
lebih banyak mengajarkan tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya
adalah peserta didik mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu dan
pada saat proses pembelajaran peserta didik lebih banyak mendengarkan. Di sini
terlihat bahwa pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran
yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pentransfer ilmu, sementara
peserta didik lebih pasif sebagai “penerima” ilmu.
Sistem pembelajaran
konvensional (faculty teaching) cenderung kental dengan suasana instruksional
dan dirasa kurang sesuai dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang demikian pesat. Di samping itu sistem pembelajaran konvensional
kurang fleksibel dalam mengakomodasi perkembangan materi kompetensi karena guru
harus intensif menyesuaikan materi pelajaran dengan perkembangan teknologi
terbaru.
Selanjutnya Philip R. Wallace
(dalam Sunarto 2009), menyatakan pembelajaran dikatakan mengggunakan pendekatan
konvensional apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·
Otoritas seorang guru lebih diutamakan dan
berperan sebagai contoh bagi murid-muridnya.
·
Perhatian kepada masing-masing individu atau
minat sangat kecil
·
Pembelajaran di sekolah lebih banyak dilihat
sebagai persiapan akan masa depan, bukan sebagai peningkatan kompetensi peserta
didik di saat ini.
·
Penekanan
yang mendasar adala pada bagaimana pengetahuan dapat diserap oleh peserta didik
dan penguasaan pengetahuan tersebutlah yang menjadi tolak ukur keberhasilan
tujuan, sementara pengembangan potensi peserta didik terabaikan.
Jika dilihat dari tiga jalur modus penyampaian pesan pembelajaran,
penyelenggaraan pembelajaran konvensional lebih sering menggunakan modus
telling (pemberian informasi), ketimbang modus demonstrating (memperagakan) dan doing
direct performance (memberikan kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara
langsung). Dalam kata lain, guru lebih sering menggunakan strategi atau metode
ceramah atau drill dengan mengikuti urutan materi dalam kurikulum secara ketat.
Guru berasumsi bahwa keberhasilan program pembelajaran dilihat dair
ketuntasannya menyampaikan seluruh meteri yang ada dalam kurikulum.
Berdasarkan hal tersebut, maka pendekatan konvensional dapat diasumsikan
sebagai pembelajaran yang
lebih banyak berpusat pada guru, komunikasi lebih banyak satu arah
dari guru ke peserta didik, metode pembelajaran lebih pada penguasaan
konsep-konsep bukan kompetensi. Meskipun banyak terdapat kekurangan, model
pembelajaran konvensional ini masih diperlukan, mengingat model ini cukup
efektif dalam memberikan pemahaman kepada para murid pada awal-awal kegiatan
pembelajaran.
E.
Macam-macam
Metode Pembelajaran konvensional
Ada beberapa macam metode yang dapat
diterapkan dalam proses pembelajaran, diantaranya:
1. Metode
Ceramah
Metode ceramah ialah suatu metode di dalam
pendidikan dan pengajaran yang cara menyampaikan pengertian-pengertian materi
pengajaran kepada anak didik dilaksanakan dengan lisan oleh guru di dalam
kelas. Peranan guru dan murid berbeda secara jelas, yaitu guru terutama dalam
menuturkan dan menerangkan secara aktif, sedangkan murid mendengarkan dan
mengikuti secara cermat serta mencatat pokok persoalan yang diterangkan oleh
guru-guru. Dalam metode ceramah ini peranan utama adalah guru. Berhasil atau
tidaknya pelaksanaan metode ceramah bergantung pada guru tersebut.
·
Kelemahan
:
1. Mudah menjadi verbalisme.
2. Yang visual menjadi rugi, dan yang
auditif (mendengarkan) yang benar-benar menerimanya.
3. Bila selalu digunakan dan terlalu
digunakan dapat membuat bosan.
4. Keberhasilan metode ini sangat
bergantung pada siapa yang menggunakannya.
5. Cenderung membuat siswa pasif
·
Kelebihan
:
1. Guru mudah menguasai kelas.
2. Mudah mengorganisasikan tempat duduk
/ kelas.
3. Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang
besar.
4. Mudah mempersiapkan dan
melaksanakannya.
5. Guru mudah menerangkan pelajaran
dengan baik.
6. Lebih ekonomis dalam hal waktu.
7. Memberi kesempatan pada guru untuk
menggunakan pengalaman, pengetahuan dan kearifan.
8. Dapat menggunakan bahan pelajaran
yang luas
9. Membantu siswa untuk mendengar secara
akurat, kritis, dan penuh perhatian.
10. Jika digunakan dengan tepat maka akan
dapat menstimulasikan dan meningkatkan keinginan belajar siswa dalam bidang akademik.
11. Dapat menguatkan bacaan dan belajar
siswa dari beberapa sumber lain
2. Metode
Diskusi
Muhibbin
Syah (2000), mendefinisikan bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang
sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazin juga disebut sebagai diskusi
kelompok (group discussion) dan resitasi bersama (socialized recitation).
·
Kelebihan
Metode Diskusi sbb:
1. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat
dipecahkan dengan berbagai jalan dan bukan satu jalan.
2. Menyadarkan anak didik bahwa dengan
berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga
dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
3. Membiasakan anak didik untuk
mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya sendiri
dan membiasakan bersikap toleransi (Syaful Bahri Djamarah, 2000).
·
Kelemahan
Metode Diskusi sbb:
1.
Tidak
dapat dipakai pada kelompok yang besar.
2.
Peserta
diskusi mendapat informasi yang terbatas.
3.
Dapat
dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara;.
4.
Biasanya
orang menghendaki pendekatan yang lebih formal
3. Metode
Curah Pendapat (Sharing)
Metode
Curah Pendapat adalah suatu teknik atau mengajar yang dilaksanakan oleh guru di
dalam kelas, yaitu dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru,
kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga
mungkin masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru, atau dapat diartikan
pula sebagai satiu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia
dalam waktu yang singkat
·
Keunggulan
metode ini
1. Anak-anak berfikir untuk menyatakan
pendapat.
2. Melatih siswa berpikir dengan cepat
dan tersusun logis.
3. Merangsang siswa untuk selalu siap
berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru.
4. Meningkatkan partisipasi siswa dalam
menerima pelajaran.
5. Siswa yang kurang aktif mendapat
bantuan dari temannya yang sudah pandai atau dari guru.
6. Terjadi persaingan yang sehat.
7. Anak merasa bebas dan gembira.
8. Suasana demokratis dan disiplin dapat
ditumbuhkan.
·
Kekurangan
metode brainstorming
Berbagai
kekurangan tersebut dapat diatasi apabila seorang guru atau pimpinan dalam
kelas bisa membaca situasi dan menguasai kelas dengan baik untuk mencari
solusi. Guru harus bisa menjadi penengah dan mengatur situasi dalam kelas
sebaik mungkin. Caranya yaitu dengan menguasai betul-betul materi yang akan
disampaikan dan membuat perencanaan proses belajar mengajar dengan matang.
4. Metode Demonstrasi
Metode
demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan
mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu,
baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Metode demonstrasi dapat digunakan
untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Sebagai
suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki beberapa kelebihan &
kekurangan, diantaranya:
·
Kelebihan
metode demonstrasi
1. Terjadinya verbalisme akan dapat
dihindari, karena siswa disuruh langsung memerhatikan pelajaran yang
dijelaskan.
2. Proses pembelajaran akan lebih
menarik, sebab siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang
terjadi.
3. Dengan cara mengamati secara langsung
siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan.
·
Kelemahan
metode demonstrasi
1. Memerlukan persiapan yang lebih
matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga
dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
2. Demonstrasi memerlukan peralatan,
bahan-bahan, dan tempat yang memadai.
3. Demonstrasi memerlukan kemampuan dan
keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih
profesional.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan materi diatas dapat disimpulkan
bahwa Metode pengajaran
adalah cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada siswa untuk tercapainya
tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan Metode konvensional adalah metode yang
biasa dipakai guru pada umumnya atau sering dinamakan metode tradisional.
Dimana Macam-macam metode belajar mengajar konvensional, meliputi : Metode
ceramah, Metode Diskusi, Metode Curah Pendapat dan Metode Demonstrasi
DAFTAR PUSTAKA
Fathurrohman,
Pupuh dan Sobry Sutikno. 2009. Strategi Belajar Mengajar.Bandung: PT Revika Aditama.
Mustakim,
Zaenal. Strategi dan Metode Pembelajaran. Pekalongan: STAIN Press.
Sabri,
Ahmad. 2005. Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching. Jakarta: Quantum
Teaching.
Comments
Post a Comment