Model Pembelajaran Tematik
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Model pembelajaran
tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik
yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna
kepada siswa. Dikatakan bermakna karena dalam pembelajaran tematik, siswa akan
memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan
menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Fokus perhatian
dalam pembelajaran tematik terletak pada proses yang ditempuh siswa saat
berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan
yang harus dikembangkannya.
Mengingat pentingnya
relevansi suatu metode dalam kegiatan belajar mengajar, dan demi menjaga
keberlangsungan interaksi antara pengajar dan peserta didik, dalam makalah ini
penulis mencoba untuk menguraikan metode tematik dalam mengajar agar bisa
diaplikasikan dalam praktisnya sesuai dengan konteks, sehingga setidaknya kita
bisa mengetahui metode tematik dalam pembelajaran, dan kita bisa menentukan mana
tema belajar yang signifikan untuk suatu metode tematik yang berorientasi pada
karakteristik peserta didik itu sendiri, agar proses belajar mengajar dapat
berlangsung secara interaktif dan optimal.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian Model Pembelajaran Tematik?
2.
Apakah Landasan dari Model Pembelajaran
Tematik?
3.
Karakteristik apa saja yang dimiliki oleh
Model Pembelajaran Tematik?
4.
Bagaimana impelementasi Model Pembelajaran
Tematik dalam pembelajaran?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian Model
Pembelajaran Tematik.
2.
Untuk mengetahui Landasan dari Model
Pembelajaran Tematik.
3.
Untuk mengetahui karakteristik apa saja
yang dimiliki oleh Model Pembelajaran Tematik.
4.
Untuk mengetahui impelementasi Model
Pembelajaran Tematik dalam pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pembelajaran Tematik sebagai model pembelajaran
termasuk salah satu tipe/jenis daripada model pembelajaran terpadu. Istilah
pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang
menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
John dewey mengungkapkan bahwa pembelajaran terpadu
adalah pendekatan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dalam pembentukan
pengetahuan berdasarkan pada interaksi dengan dan pengalaman kehidupannya.
Menurut. raka joni bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu system
pembelajaran yang memungkinkan siswa secara individual maupun kelompok aktif
mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic,
bermakna, dan otentik.
Lebih lanjut Hadi Subroto menegaskan,
pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok
bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan yang lain,
konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan
atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam
pengalaman belajar siswa, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Maka pada
umumnya pembelajaran tematik/terpadu adalah pembelajaran yang menggunakan tema
tertentu untuk mengaitkan antara beberapa isi mata pelajaran dengan pengalaman
kehidupan nyata sehari-hari siswa sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna
bagi siswa.
Pembelajaran
tematik dikemas dalam suatu tema atau bisa disebut dengan istilah tematik.
Pendekatan tematik ini merupakan satu usaha untuk mengintegrasikan pengetahuan,
kemahiran dan nilai pembelajaran serta pemikiran yang kreatif dengan
menggunakan tema. Dengan kata lain pembelajaran tematik adalah pembelajaran
yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat
memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik. Dikatakan bermakna karena
dalam pembelajaran tematik, peserta didik akan memahami konsep-konsep yang
mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang telah dipahaminya. Pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran
yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan
pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para
tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu
haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
Pendekatan pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar
sambil melakukan sesuatu (learning by doing).
Dalam
pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema
yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama peserta didik dengan
memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Tema dalam pembelajaran
tematik menjadi sentral yang harus dikembangkan. Tema tersebut diharapkan akan
memberikan banyak keuntungan, di antaranya: 1) peserta didik mudah memusatkan
perhatian pada suatu tema tertentu, 2) Peserta didik mampu mempelajari
pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran
dalam tema yang sama; 3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan
berkesan; 4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan
mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik; 5) Peserta didik
lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam
konteks tema yang jelas; 6) Peserta didik mampu lebih bergairah belajar karena
dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan
dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain; 7) guru
dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat
dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu
selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
B.
Landasan
1.
Landasan filosofis
Dalam pembelajaran
tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme,
(2) konstruktivisme, (3) humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran
perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pembelajaran sejumlah kegiatan,
suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan kemampuan siswa. Aliran
konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai
kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil
konstruksi bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui
interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Sedangkan
aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan atau kekhasannya, potensinya,
dan motivasi yang dimilikinya.
2.
Landasan Psikologis
Dalam pembelajaran
tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan
psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan
isi atau materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat
keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi atau materi
pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa
harus mempelajarinya.
3.
Landasan Yuridis
Dalam pembelajaran
tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung
pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut
adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa
setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan
bakatnya (Pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan barhak
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya
C.
Karakteristik
1.
Berpusat pada siswa
Pembelajaran
tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan
pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subyek belajar sedangkan guru lebih banyak
berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa
untuk melakukan aktivitas belajar.
2.
Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman
langsung kepada siswa (direct experiences).Dengan pengalaman langsung ini,
siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami
hal-hal yang lebih abstrak.
3.
Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata
pelajaran menjadi tidak begitu jelas.Fokus pembelajaran diarahkan kepada
pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4.
Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari
berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa
mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh.Hal ini diperlukan untuk
membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan
sehari-hari.
5.
Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana
guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran
yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan
lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
6.
Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan
menyenangkan. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai
dengan minat, dan kebutuhan siswa.
D.
Implementasi dalam Pembelajaran
1.
Guru akan dituntut
untuk lebih kreatif dalam menyiapkan materi pembelajaran, memilih kompetensi
dari berbagai pelajaran, serta mengemas dan menyuguhkan mata pelajaran jadi
menarik, menyenangkan dan membuat siswa gembira.
2.
Siswa mesti mengikuti
proses pembelajaran yang bisa memungkinkan bekerja secara individu atau
kelompok atau bahkan cara- cara klasik. Semua itu tergantung pada sejauh mana
kemampuan guru untuk mencari pilihan yang terbaik bagi siswa dalam mencari
metode pembelajaran. Yang terpenting bagi siswa bisa mengikuti pembelajaran
secara variatif.
3.
Pelajaran tematik
memerlukan sarana dan prasarana yang lebih kompleks. Pembelajaran ini kadang
memerlukan desain khusus maupun sumber belajar yang ada di lingkungan yang siap
di manfaatkan secara praktis. Pembelajaran ini memerlukan media pembelajaran
bervariasi untuk memudahkan siswa dalam memahami konsep- konsep yang abstak.
4.
Pembelajaran tematik
juga membutuhkan pengaturan ruangan. Pengaturan ruangan itu meliputi, penyesuaian
pengukuran ruangan dengan tema yang disajikan, pengaturan bangku peserta didik
yang sesuai dengan tema, kegiatan tak melulu di dalam ruangan, tetapi juga bisa
dilakukan di luar ruangan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam pembahasan diatas telah diuraikan beberapa pengertian model
pembelajaran tematik secara umum, kemudian tentang karakteristik dari model
pembelajaran tematik, dan yang terakhir adalah uraian tentang kelebihan dan
kekurangan dari model pembelajaran tematik. Dari uraian diatas akhirnya
disimpulkan bahwasanya model pembelajaran tematik ini katakanlah populer,
lantaran materi dari tiap mata pelajaran dapat kita satukan, atau dengan kata
lain, dapat dikait-kaitkan. Dengan begitu, proses penyampaian materi akan lebih
mudah diserap karena materi yang diajarkan berikutnya, seolah sudah diajarkan
sebelumnya dalam mata pelajaran lain yang dikaitkan dengan mata pelajaran
berikutnya.
Model pembelajaran tematik ini juga kiranya lebih relevan diterapkan,
sebab model pembelajaran tematik ini juga dapat membantu membangkitkan minat
belajar siswa. Karena dalam pengemasan mata pelajaran menggunakan model
pembelajaran tematik ini, mata pelajaran yang disaling kait-kaitkan dikemas
dalam bentuk penyampaian materi yang didalamnya terdapat unsur bermain,
sehingga siswa sekolah dasar akan lebih menyukainya.
Anak-anak kreatif sama saja kedudukannya dengan anak-anak biasa lainnya
dirumah, sekolah maupun masyarakat, namun karena potensi kreatifnya itu mereka
sangat memerlukan perhatian khusus dari pendidik untuk mengembangkan dirinya.
Perhatian khusus di sini bukan berarti mereka harus mendapatkan perlakuan
istimewa, melainkan harus mendapatkan bimbingan sesuai dengan potensi
kreatifnya itu agar tidak sia-sia dan metode tematik ini juga merupakan salah
satu metode yang bisa menunjang hal tersebut.
B. Kritik dan Saran
Kami sadar
makalah kami masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kami harap kritik dan
saran dari Bapak/Ibu dosen serta teman-teman untuk lebih baiknya makalah ini.
Kami menyarankan
kepada kita semua untuk mempelajari dan memahami Model Pembelajran Tematik agar kita sebagai seorang guru maupun calon guru, memiliki bekal mengenai
model-model pembelajaran yang ada, khususnya Model Pembelajaran Tematik ini.
DAFTAR PUSTAKA
Comments
Post a Comment