Penilaian Afektif
Langkah – langkah penilaian Afektif :
Dalam kaitan untuk mengetahui sejauh mana sikap
dan minat siswa terhadap suatu mata pelajaran atau materi pelajaran, yang kedua
termasuk bagian penting dari ranah afektif, maka guru perlu menyusun instrumen
penilaian afektif. Ada 10 (sepuluh) langakah untuk menyusun instrumen penilaian
afektif (Suhadi Mukhan,
2013:35).
1. Pemilihan ranah afektif
yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap suatu materi
pelajaran.
2. Penentuan indikator apa
yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa
terhadap suatu materi pelajaran
3. Beberapa contoh
indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan
minat siswa terhadap suatu materi pelajaran, yaitu:
(1) persentase kehadiran atau ketidakhadiran di
kelas
(2) aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran
berlangsung, misalnya apakah suka bertanya, terlibat aktif dalam diskusi, aktif
memperhatikan penjelasan guru, dsb.;
(3) penyelesaian tugas-tugas belajar yang
diberikan, seperti ketepatan waktu mengumpul PR atau tugas lainnya
(4) kerapian buku catatan dan kelengkapan bahan
belajar lainnya terkait materi pelajaran tersebut.
4. Penentuan jenis skala
yang digunakan, misalnya jika menggunakan skala Likert, berarti ada 5 rentang
skala, yaitu:
(1) tidak berminat;
(2) kurang berminat;
(3) netral;
(4) berminat; dan
(5) sangat berminat.
5. Penulisan draft
instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner) berdasarkan
indikator dan skala yang telah ditentukan.
6. Penelaahan dan meminta
masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen penilaian ranah
afektif yang telah dibuat.
7. Revisi instrumen
penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat, bila
memang diperlukan
8. Persiapan kuisioner
untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang diberikan
siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
9. Pemberian skor
inventori kepada siswa
10. Analisis hasil inventori
minat siswa terhadap materi pelajaran
Bagaimana memberikan skor dalam penilaian
afektif
Teknik penskoran untuk penilaian ranah afektif
dapat dilakukan secara sederhana. Contoh, pada instrumen penilaian minat siswa
terhadap suatu materi pelajaran terdapat 10 item (berarti ada 10 indikator),
maka bila skala yang digunakan adalah skala Likert (1 sampai 5), berarti skor
terendah yang mungkin diperoleh seorang siswa adalah 10 (dari 10 item x 1) dan
skor paling tinggiyang mungkin diperoleh siswa adalah 50 (dari 10 item x
5). Maka kita dapat menetukan median-nya, yaitu (10 + 50)/2 atau sama dengan
30. Bila kita membaginya menjadi 4 kategori, maka skor 10 -20 termasuk tidak
berminat; skor 21 – 30 termasuk kurang berminat; skor 32 – 40 berminat, dan
skor 41 – 50 termasuk kategori sangat berminat.
Contoh instrumen penilaian afektif
Berikut ini diberikan contoh instrumen penilaian
sikap siswa terhadap materi pelajaran evolusi pada mata pelajaran IPA di kelas
IX

Langkah-langkah Menyusun Instrumen Penilaian Afektif
Ada sebelas langkah yang harus diikuti dalam
mengembangkan instrumen penilaian afektif, yaitu: menentukan spesifikasi
instrumen, menulis instrumen, menentukan skala instrumen, menentukan sistem
penskoran, menelaah instrumen, merakit instrumen, melakukan ujicoba,
menganalisis hasil ujicoba, memperbaiki instrumen, melaksanakan pengukuran, dan
menafsirkan hasil pengukuran. (Zainal Arifin, 2009:23).
1.
Menentukan spesifikasi instrumen
Spesifikasi instrumen terdiri atas tujuan dan kisi-kisi instrumen.
Dalam bidang pendidikan pada dasarnya pengukuran afektif ditinjau dari
tujuannya, contohnya instrumen sikap.
2.
Menulis instrumen
Tabel 1. Kisi-kisi Instrumen Afektif
|
No
|
Indikator
|
Jumlah Butir
|
Pertanyaan/Pernyataan
|
Skala
|
|
1
|
||||
|
2
|
||||
|
3
|
||||
|
4
|
||||
|
5
|
Contoh: Instrumen sikap
Definisi konseptual: Sikap merupakan kecenderungan merespon secara
konsisten baik menyukai atau tidak menyukai suatu objek. Instrumen sikap
bertujuan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap suatu objek, misalnya
kegiatan sekolah. Sikap bisa positif bisa negatif. Definisi operasional: sikap
adalah perasaan positif atau negatif terhadap suatu objek. Objek bisa berupa
kegiatan atau mata pelajaran. Cara yang mudah untuk mengetahui sikap peserta
didik adalah melalui kuesioner.
Pertanyaan tentang sikap meminta responden menunjukkan perasaan
yang positif atau negatif terhadap suatu objek, atau suatu kebijakan. Kata-kata
yang sering digunakan pada pertanyaan sikap menyatakan arah perasaan seseorang;
menerima-menolak, menyenangi-tidak menyenangi, baik-buruk, diingini-tidak
diingini.
Contoh indikator sikap terhadap mata pelajaran matematika
misalnya:
·
Membaca buku matematika
·
Mempelajari matematika
·
Melakukan interaksi dengan guru matematika
·
Mengerjakan tugas matematika
·
Melakukan diskusi tentang matematika
·
Memiliki buku matematika
Contoh pernyataan untuk kuesioner:
·
Saya senang membaca buku matematika
·
Tidak semua orang harus belajar matematika
·
Saya jarang bertanya pada guru tentang pelajaran matematika
·
Saya tidak senang pada tugas pelajaran matematika
·
Saya berusaha mengerjakan soal-soal matematika sebaik-baiknya
·
Memiliki buku matematika penting untuk semua peserta didik
3.
Menentukan skala instrumen
Secara garis besar skala instrumen yang sering digunakan dalam
penelitian, yaitu Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda semantik..
Contoh Skala Likert: Sikap terhadap pelajaran Matematika
|
1
|
Pelajaran Matematika
bermanfaat
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
|
2
|
Pelajaran Matematika
sulit
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
|
3
|
Tidak semua harus
belajar Matematika
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
|
4
|
Pelajaran Matematika
harus dibuat mudah
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
|
5
|
Sekolah saya
menyenangkan
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
Keterangan:
SS : Sangat Setuju
S : Setuju
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju
4.
Menentukan sistem penskoran
Sistem penskoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran.
Apabila digunakan skala Thurstone, maka skor tertinggi untuk tiap butir 7 dan
skor terendah 1. Demikian pula untuk instrumen dengan skala beda semantik,
tertinggi 7 terendah 1. Untuk skala Likert, pada awalnya skor tertinggi tiap
butir 5 dan terendah 1. Dalam pengukuran sering terjadi kecenderungan responden
memilih jawaban pada katergori tiga 3 (tiga) untuk skala Likert. Untuk
menghindari hal tersebut skala Likert dimodifikasi dengan hanya menggunakan 4
(empat) pilihan, agar jelas sikap atau minat responden.
5.
Menelaah instrumen
Kegiatan pada telaah instrumen adalah menelaah apakah: a) butir
pertanyaan/pernyataan sesuai dengan indikator, b) bahasa yang digunakan
komunikatif dan menggunakan tata bahasa yang benar, c) butir
pertanyaaan/pernyataan tidak bias, d) format instrumen menarik untuk dibaca, e)
pedoman menjawab atau mengisi instrumen jelas, dan f) jumlah butir dan/atau
panjang kalimat pertanyaan/pernyataan sudah tepat sehingga tidak menjemukan
untuk dibaca/dijawab.
Telaah dilakukan oleh pakar dalam bidang yang diukur dan akan
lebih baik bila ada pakar penilaian. Telaah bisa juga dilakukan oleh teman
sejawat bila yang diinginkan adalah masukan tentang bahasa dan format
instrumen. Bahasa yang digunakan adalah yang sesuai dengan tingkat pendidikan
responden. Hasil telaah selanjutnya digunakan untuk memperbaiki instrumen.
6.
Merakit instrumen
Setelah instrumen diperbaiki selanjutnya instrumen dirakit, yaitu
menentukan format tata letak instrumen dan urutan pertanyaan/ pernyataan.
Format instrumen harus dibuat menarik dan tidak terlalu panjang, sehingga
responden tertarik untuk membaca dan mengisinya. Setiap sepuluh pertanyaan
sebaiknya dipisahkan dengan cara memberi spasi yang lebih, atau diberi batasan
garis empat persegi panjang. Urutkan pertanyaan/pernyataan sesuai dengan
tingkat kemudahan dalam menjawab atau mengisinya.
7.
Melakukan ujicoba
Setelah dirakit instrumen diujicobakan kepada responden, sesuai
dengan tujuan penilaian apakah kepada peserta didik, kepada guru atau orang tua
peserta didik. Untuk itu dipilih sampel yang karakteristiknya mewakili populasi
yang ingin dinilai. Bila yang ingin dinilai adalah peserta didik SMA, maka
sampelnya juga peserta didik SMA. Sampel yang diperlukan minimal 30 peserta
didik, bisa berasal dari satu sekolah atau lebih.
8.
Menganalisis hasil ujicoba
Analisis hasil ujicoba meliputi variasi jawaban tiap butir
pertanyaan/pernyataan. Jika menggunakan skala instrumen 1 sampai 7, dan jawaban
responden bervariasi dari 1 sampai 7, maka butir pertanyaan/pernyataan pada
instrumen ini dapat dikatakan baik. Namun apabila jawabannya hanya pada satu
pilihan jawaban saja, misalnya pada pilihan nomor 3, maka butir instrumen ini
tergolong tidak baik. Indikator yang digunakan adalah besarnya daya beda dan
indeks keandalan yang dikenal dengan indeks reliabilitas.
9.
Memperbaiki instrumen
Perbaikan dilakukan terhadap butir-butir pertanyaan/pernyataan
yang tidak baik, berdasarkan analisis hasil ujicoba. Bisa saja hasil telaah
instrumen baik, namun hasil ujicoba empirik tidak baik. Untuk itu butir
pertanyaan/pernyataan instrumen harus diperbaiki. Perbaikan termasuk
mengakomodasi saran-saran dari responden ujicoba. Instrumen sebaiknya
dilengkapi dengan pertanyaan terbuka.
10.
Melaksanakan pengukuran
Pelaksanaan pengukuran perlu memperhatikan waktu dan ruangan yang
digunakan. Waktu pelaksanaan bukan pada waktu responden sudah lelah. Ruang
untuk mengisi instrumen harus memiliki cahaya (penerangan) yang cukup dan
sirkulasi udara yang baik. Tempat duduk juga diatur agar responden tidak
terganggu satu sama lain. Diusahakan agar responden tidak saling bertanya pada
responden yang lain agar jawaban kuesioner tidak sama atau homogen. Pengisian
instrumen dimulai dengan penjelasan tentang tujuan pengisian, manfaat bagi
responden, dan pedoman pengisian instrumen.
11. Menafsirkan hasil pengukuran
Hasil pengukuran berupa skor atau angka. Untuk menafsirkan hasil
pengukuran diperlukan suatu kriteria. Kriteria yang digunakan tergantung pada
skala dan jumlah butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan.
Comments
Post a Comment