Model Pembelajaran Berbasis Proyek
BAB I
PENDAHULUAN
Sesuai
dengan ensiklopedia pendidikan bahwa yang dimaksud dengan proyek adalah suatu
kesatuan tugas yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan karenanya mendapat
perhatiannya dan memaksanya untuk mengerjakannya dengan teratur, bersama-sama dengan
kawan / rekannya (Soegarda, 1981:296).
Sesungguhnya
metode proyek tersebut diarahkan kepada kehidupan praktis yang sesuai dengan
filsafat-filsafatnya, karena adanya hubungan yang erat antara pengetahuan dan
masalah-masalah hidup praktis sehingga suatu ilmu pengetahuan tidak bisa lepas
dari ilmu pengetahuan yang lain dan aspek-aspek kehidupan nyata. Bisa juga
disebutkan bahwa dalam metode proyek ini memasukkan praktek hidup dalam
sekolah, dan tiap kesibukan di sekolah harus sesuai dengan pekerjaan yang
dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Jadi dalam tiap kesibukan harus ada unsur
kemasyarakatannya. Tiap kesibukan mempunyai dua aspek yaitu teori dan praktek.
Teori adalah pengetahuan dan pemikiran, sedangkan praktek adalah gerak, kedua
hal tersebut harus berjalan bersama-sama.
Model
pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada guru untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan
kerja proyek, menurut Thomas (dalam Wena, 2008:144). Pembelajaran berbasis
proyek adalah sebuah model pembelajaran yang inovatif dan lebih menekankan pada
belajar kontektual melalui kegiatan-kegiatan yang komplek (Wena, 2008:145).
Fokus pembelajaran terletak pada prinsip dan konsep inti dari suatu disiplin
ilmu, melibatkan siswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan
tugas-tugas bermakna yang lain, memberi kesempatan siswa bekerja secara otonom
dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri, dan mencapai puncaknya untuk
menghasilkan produk nyata.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pembelajaran
berbasis proyek adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan suatu proyek
dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh siswa dapat berupa
proyek perseorangan atau kelompok dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu
secara kolaboratif, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan
ditampilkan atau dipresentasikan. Pelaksanaan proyek dilakukan secara
kolaboratif dan inovatif, unik, yang berfokus pada pemecahan masalah yang
berhubungan dengan kehidupan siswa. Pembelajaran berbasis proyek merupakan
bagian dari metoda instruksional yang berpusat pada pebelajar.
Artinya,
strategi tersebut hanya membahas tentang bagaimana mengajarkan keterampilan
dasar kejuruan. Jadi, strategi tersebut belum membahas tentang bagaimana
mengajarkan keterampilan – keterampilan yang bersifat kompleks. Namun menurut
Nolker & Schoenfeldt (1983:32) metode atau strategi mengajar ketrampilan
dasar kejuruan seperti yang telah dibahas diatas selalu memiliki kelemahan,
antara lain:
Ø Tidak
sepenuhnya dapat membekali kemampuan atau ketrampilan guna menghadapi situasi
kritis dalam profesi.
Ø Menyebabkan
siswa bergantung pada pengajar.
Ø Merintangi
perkembangan kemampuan untuk bekerjasama
Ø Tidak
mengetengahkan problem – problem kompleks yang jangkauannya melampaui batas –
batas bidang profesi sendiri.
Definisi
tersebut sejalan dengan uraian yang dipaparkan oleh Bell (2005) yaitu sebagai
berikut.
a.
Project Based Learning
is curriculum fueled and standards based.
Model
pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang menghendaki
adanya standar isi dalam kurikulumnya. Melalui Pembelajaran berbasis proyek,
proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (aguiding
question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang
mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum.
b.
Project Based Learning
asks a question or poses a problem that each student can answer.
Pembelajaran
berbasis proyek adalah model pembelajaran yang menuntut pengajar dan atau
peserta didik mengembangkan pertanyaan penuntun (a guiding question). Mengingat
bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka
pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik
untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna
bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Hal ini memungkinkan
setiap peserta didik pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan penuntun.
c.
Project Based Learning
asks students to investigate issues and topics addressing real-world problems
while integrating subjects across the curriculum.
Pembelajaran
berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang menuntut peserta didik
membuat “jembatan” yang menghubungkan antar berbagai subjek materi. Selain itu,
pembelajaran berbasis proyek merupakan investigasi mendalam tentang sebuah
topik dunia nyata.
d.
Project Based Learning
is a models that fosters abstract, intellectual tasks to explore complex
issues.
Pembelajaran
berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang memperhatikan pemahaman
peserta didik dalam melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi dan
mensintesis informasi melalui cara yang bermakna. Pembelajaran berbasis proyek
juga merupakan suatu model pembelajaran yang menyangkut pemusatan pertanyaan
dan masalah yang bermakna, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, proses
pencarian berbagai sumber, pemberian kesempatan kepada anggota untuk bekerja
secara kolaborasi, dan menutup dengan presentasi produk nyata. Pembelajaran
berbasis proyek ini tidak hanya mengkaji hubungan antara informasi teoritis dan
praktek, tetapi juga memotivasi siswa untuk merefleksi apa yang mereka pelajari
dalam pembelajaran dalam sebuah proyek nyata serta dapat meningkatkan kinerja
ilmiah mereka Grant (2008).
Secara
lebih rinci, model pembelajaran berbasis proyek mengikuti lima langkah utama,
yaitu:
1.
Menetapkan tema proyek
2. Menetapkan
konteks belajar
3. Merencanakan
aktivitas
4. Memproses
aktivitas, dan
5. Penerapan
aktivitas (Santyasa, 2006).
B. Langkah-langkah utama model pembelajaran berbasis
proyek
1. Menetapkan tema proyek.
Tema
proyek hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut:
a. Memuat
gagasan yang penting dan menarik
b.
Mendeskripsikan masalah kompleks
c. Mengutamakan
pemecahan masalah.
2. Menetapkan konteks belajar
Konteks
belajar hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut:
a. Mengutamakan
otonomi siswa
b. Melakukan
inquiry
c. Siswa mampu
mengelola waktu secara efektif dan efesien
d. Siswa belajar
penuh dengan kontrol diri dan bertanggung jawab
3. Merencanakan aktivitas-aktivitas.
Pengalaman
belajar terkait dengan merencanakan proyek adalah mencari sumber yang berkait
dengan tema proyek.
4. Memproses aktivitas-aktivitas.
Indikator-indikator
memroses aktivitas meliputi antara lain:
a. Membuat sketsa
b. Melukiskan
analisa rancangan proyek.
5. Penerapan aktivitas-aktivitas untuk menyelesaikan
proyek. Langkah-langkah yang dilakukan, adalah:
a. mengerjakan
proyek berdasarkan sketsa
b. membuat
laporan terkait dengan proyek, dan
c.
mempresentasikan proyek
Kelima
langkah tersebut mengandung interpretasi bahwa dalam mengerjakan proyek, siswa
dapat berkolaborasi dan melakukan investigasi dalam kelompok kolaboratif antara
4-5 orang. Keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan dan dikembangkan oleh
siswa dalam tim adalah merencanakan, mengorganisasikan, negosiasi, dan membuat
konsensus tentang tugas yang dikerjakan, siapa yang mengerjakan apa, dan
bagaimana mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam berinvestigasi.
Keterampilan
yang dibutuhkan dan yang akan dikembangkan oleh siswa merupakan keterampilan
yang esensial sebagai landasan untuk keberhasilan proyek mereka.
Keterampilan-keterampilan yang dikembangkan melalui kolaborasi dalam tim
menyebabkan pembelajaran menjadi aktif, di mana setiap individu memiliki
keterampilan yang bervariasi sehingga setiap individu mencoba menunjukkan
keterampilan yang mereka miliki dalam kerja tim mereka. Pembelajaran secara
aktif dapat memimpin siswa ke arah peningkatan keterampilan dan kinerja ilmiah.
Kinerja ilmiah tersebut mencakup prestasi akademis, mutu interaksi hubungan
antar pribadi, rasa harga diri, persepsi dukungan sosial lebih besar, dan
keselarasan antar para siswa.
Menurut
Nolker & Schoenfeldt (1983) mengingat prinsip strategi proyek yang sangat
khas, maka da persyaratan tertentu yang harus dipenuhi agar strategi
pembelajaran proyek dapat diterapkan, antara lain:
Ø Sasaran
yang harus dicapai berupa penyelesaian suatu problem yang kompleks.
Ø Para
peserta proyek memiliki kebebasan seluas mungkin, untuk mengadakan penentuan
menganai subjek, perencanaan, pelaksanaan, serta penerapan proyek.
Ø Dalam
proyek, keputusan diambil berdasarkan konsensus.
Ø Pengajar
atau instruktur berintegrasi dalam kelompok proyek.
Ø Diadakan
pertalian antara teori dan praktik.
Ø Diperlukan
ketrampilan lebih dari satu bidang guna menyelesaikan problem yang ditimbulkan.
Ø Pekerjaan
proyek dibagi dalam kelompok – kelompok.
Ø Sasaran
proyek adalah menghasilkan sesuatu yang nyata dan berfaedah.
Berpijak
pada uraian diatas, maka dalam pelaksanaan pembelajaran praktik keterampilan
kejuruan dengan strategis berbasis proyek, proyek kerja apa yang akan dibuat
atau dikerjakan siswa harus sudah jelas. Selain itu bentuk proyek yang
dirancang tersebut harus memberi kemungkinan bagi siswa untuk saling bekerja sama
seoptimal mungkin antara sesama anggota kelompok.
Implikasi
model pembelajaran berbasis proyek dalam proses belajar mengajar adalah
pembelajaran berbasis proyek memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk
merencanakan aktivitas belajar, melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan
pada akhirnya menghasilkan produk kerja yang dapat dipresentasikan kepada orang
lain. Selain itu, dalam pembelajaran berbasis proyek siswa menjadi terdorong
lebih aktif berakitivitas dalam belajar sehingga dapat meningkatkan kinerja
ilmiah siswa, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan mengevaluasi proses
dan produk hasil kinerja siswa meliputi outcome yang mampu ditampilkan dari
hasil proyek yang dikerjakan.
Pembelajaran
berbasis proyek yang berpusat pada pebelajar dan memberikan kesempatan kepada
pebelajar untuk menyelidiki topik permasalahan, membuat pebelajar menjadi lebih
otonomi sehingga mereka dapat membangun pengetahuan mereka sendiri serta
pembelajaran menjadi lebih bermakna. Aplikasi model pembelajaran berbasis
proyek ini mempunyai beberapa alasan, yaitu:
Ø Menawarkan
potensi produksi dan tindakan pengetahuan kolektif di dalam proyek sosial.
Ø Dalam
tradisi pendidikan masyarakat radikal, pengajaran merupakan underpinned oleh
kepercayaan yang bermanfaat pada pengembangan pengetahuan yang melibatkan
pengembangan pemikiran
Ø Proses
kerja kelompok yang saling mendukung dapat membuka berbagai peluang untuk
kreativitas, karena para siswa mengadakan percobaan dengan penafsiran berpikir
dan data berbeda untuk menyelesaikan permasalahan dalam proyek mereka yang
dapat diterapkan untuk mengembangkan pembentukan masyarakat praktek Grant
(2008).
Sama seperti
pembelajaran pada umumnya, strategi pembelajaran berbasis proyek terdiri atas
tiga tahapan utama, yaitu:
a. Tahap perencanaan pembelajaran proyek.
b. Tahap pelaksanaan pembelajaran proyek.
c. Tahap evaluasi pembelajaran proyek.
C. Tahapan model pembelajaran berbasis proyek
a. Perencanaan.
Mengingat
perencanaan strategi pembelajaran berbasis proyek harus disusun secara
sistematis maka langkah – langkah perencanaan dirancang sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran atau
proyek.
2. Menganalisis karakteristik siswa.
3. Merumuskan strategi pembelajaran.
4. Membuat lembar kerja.
5. Merancang kebutuhan sumber belajar.
6. Merancang alat evaluasi.
2. Pelaksanaan.
Agar
proses pelaksanaan praktik kejuruan dengan menggunakan strategi pembelajaran
berbasis proyek ini berjalan dengan baik, ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
1. Mempersiapkan sumber belajar yang
disiapkan.
2. Menjelaskan tugas proyek dan gambar
kerja.
3. Mengelumpukkan siswa sesuai dengan tugas
masing – masing.
4. Mengerjakan proyek.
3.
Evaluasi.
Tahap
evaluasi merupakan tahap penting dalam pembelajaran berbasis proyek. Agar guru
mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran praktik dapat tercapai.
Penilaian melalui tugas dilakukan
terhadap tugas yang dikerjakan siswa secara individu atau kelompok untuk
periode tertentu. Tugas sering berkaitan dengan pengumpulan data/bahan,
analisis data, penyajian data atau bahan, dan pembuatan laporan. Penilaian
tugas dapat dilakukan terhadap proses selama pengerjaan tugas atau terhadap
hasil tugas akhir. Dengan demikian guru dapat menetapkan hal – hal yang perlu
dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan daftar cek (checklist) atau skala
penilaian (rating scale).
Keberhasilan
penerapan pembelajaran berbasis proyek pada siswa tergantung dari rancangan
tahap pembelajaran. Tahap pelajaran yang dirancang harus dapat menggali
penemuan-penemuan mereka sendiri. Peran pendidik dalam pembelajaran ini adalah
sebagai mediator dan fasilitator, di mana dalam penerapan pembelajaran berbasis
proyek, pendidik harus mampu memotivasi siswa untuk mengemukakan pendapat
mereka dalam presentasi proyek secara demokratis.
BAB III
PENUTUP
Pembelajaran
berbasis proyek / tugas adalah sebuah metode penyajian bahan pembelajaran yang
diberikan oleh guru kepada peserta didik berupa seperangkat tugas yang harus dikerjakan
peserta didik, baik secara individual maupun secara kelompok.
Penggunaan
metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran
dan memberikan kesempatan peserta didik melakukan sendiri kegiatan belajar yang
ditugaskan. empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalana
mereka menjadi pembelajar mandiri yang efektif.
Untuk
mengatasi kelemahan dari pembelajaran berbasis proyek seorang peserta didik
dapat mengatasi dengan cara memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi
masalah , membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek,
meminimaliskan dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat
dilingkungan sekitar , memilih lokasi penelitian yang terjangkau yang tidak
membutuhkan banyak biaya dan waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Herminarto
Sofyan. 2006. Implementasi pembelajaran Berbasis Proyek Pada Bidang Kejuruan.
Cakrawala Pendidikan. Yogyakarta: LPM UNY.
Puskur.2002.Penilaian
Berbasis Kelas.Jakarta:Depdiknas-Balitbang-Pusat Kurikulum.
Semiawan, C.,
Tangyong A. F., dkk. 1987. Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana
Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar?. Jakarta: Gramedia.
Bambang Budi
Wiyono, Sunarni, 2009, Evaluasi Program Pendidikan dan Pembelajaran,Fakultas
Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang,Malang.
Nolker, H. &
Schoenfeldt, E. 1983. Pendidikan Kejuruan: Pembelajaran, Kurikulum, dan
Perencanaan. Jakarta: Gramedia.
Comments
Post a Comment